Generasi.co, MAKASSAR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat 17,6 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah memanfaatkan platform linkumkm by BRI hingga September 2026. Platform tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas akses pengembangan kapasitas usaha secara digital.
Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan program tersebut adalah Ripuji Lontaratta, UMKM fesyen dan kerajinan asal Makassar, Sulawesi Selatan. Usaha yang didirikan As’ad Fadli pada 2019 ini memproduksi tas dan topi dengan desain kekinian yang memadukan motif khas Sulawesi Selatan, terutama aksara Lontara.
As’ad mengatakan, pelatihan melalui linkumkm by BRI membantunya mengembangkan pengelolaan usaha, terutama dalam aspek legalitas dan manajemen sumber daya manusia.
“Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif,” kata As’ad.
Ripuji Lontaratta memasarkan produknya melalui gerai fisik, media sosial, kerja sama business to business (B2B), serta pameran dan berbagai acara. Usaha tersebut kini memiliki lima tenaga kerja dan menjangkau pelanggan antarkota hingga antarpulau.
Selain mengembangkan bisnis, As’ad menggunakan produknya untuk memperkenalkan kembali aksara Lontara kepada generasi muda. Ia melihat anak muda di Makassar mulai asing dengan aksara tersebut, sementara tas dan topi memiliki kedekatan dengan gaya hidup mereka.
“Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen. Karena itu, kami membuat usaha ini dengan tujuan menjaga warisan budaya masyarakat Makassar namun tetap bisa tampil keren,” ujarnya.
Produk Ripuji Lontaratta, antara lain Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat, menggunakan motif aksara Lontara sebagai bagian dari upaya melestarikan identitas budaya lokal. Dalam menjalankan usaha, As’ad juga memanfaatkan QRIS BRI untuk memudahkan transaksi pelanggan.
As’ad mengaku menghadapi tantangan berupa pembatalan pesanan khusus secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang kurang sehat. Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses bisnis dan mencari solusi atas persoalan yang muncul.
Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI M. Candra Utama mengatakan pengembangan UMKM perlu mencakup berbagai aspek, termasuk kapasitas manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, dan kemampuan membaca peluang pasar.
“BRI melihat bahwa UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya,” kata Candra.
Menurut Candra, linkumkm by BRI merupakan bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM yang menyediakan akses pengembangan kapasitas usaha sesuai kebutuhan pelaku usaha.










