Generasi.co, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dalam sistem ini, makanan yang dimasak SPPG dibawa dalam kondisi hangat ke kelas untuk kemudian disajikan oleh siswa kepada teman-teman dan guru. Uji coba tersebut mulai berjalan sejak Senin (5/10).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan sistem prasmanan diuji untuk menjaga makanan tetap hangat dan lebih segar sekaligus mengurangi jeda waktu penyajian yang dinilai dapat meningkatkan risiko makanan mengalami kerusakan.
“Per hari ini, dari tanggal 5 (Oktober) ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (5/10).
Sudaryono mengatakan sistem tersebut juga dirancang sebagai bagian dari edukasi bagi siswa. Sekolah dan siswa dilibatkan dalam proses penyajian sehingga tidak hanya SPPG yang membutuhkan pelatihan.
Dalam pelaksanaannya, siswa akan mendapat jadwal piket untuk melayani teman-teman dan guru. Sekitar lima hingga enam siswa akan berada dalam satu kelompok piket dengan mengenakan celemek dan sarung tangan.
“Yang jelas kalau prasmanan ini memang kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukuplah, karena melibatkan sekolah, melibatkan siswanya,” katanya.
BGN juga memantau jumlah makanan yang tersisa selama uji coba. Berdasarkan laporan sementara yang diterima Sudaryono, tingkat makanan yang habis dinilai cukup baik.
Siswa yang masih ingin makan juga dapat mengambil makanan tambahan selama persediaan masih tersedia. Menurut Sudaryono, mekanisme tersebut dapat mengurangi makanan yang terbuang.
“Lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, jadi waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan itu,” ujarnya.
Uji coba saat ini dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Papua, termasuk Jayapura. BGN masih mengevaluasi berbagai persoalan yang muncul sebelum sistem tersebut diperluas ke wilayah lain.
Sudaryono mengatakan makanan dalam sistem prasmanan tidak harus dimasak di sekolah. Makanan dapat dimasak di SPPG atau dapur pusat, lalu dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat untuk disajikan di kelas.
Menurutnya, mekanisme tersebut dipelajari BGN bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Jepang. Dalam mekanisme itu, makanan dapat dimasak di dapur pusat atau central kitchen, kemudian didistribusikan ke sekolah untuk disajikan secara prasmanan di kelas.
Namun, sekolah dengan jumlah siswa besar dapat memasak makanan langsung di lingkungan sekolah. Sudaryono mencontohkan pesantren dengan jumlah siswa lebih dari 1.000 orang yang memiliki dapur sendiri sebagai bagian dari fasilitasnya.
BGN masih akan mengevaluasi pelaksanaan sistem prasmanan tersebut, termasuk kebutuhan pelatihan bagi SPPG, sekolah, dan siswa yang terlibat dalam penyajian makanan.










