Generasi.co, JAKARTA – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan Dharma Agama dan Dharma Negara tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut dia, keduanya harus saling menguatkan agar kehidupan beragama berjalan seiring dengan pembangunan negara.
Pesan itu disampaikan Muzani saat membuka Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
“Dharma Agama dan Dharma Negara tidak bisa dipisahkan,” ujar Muzani.
Ia mengatakan keyakinan keagamaan harus memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa, sementara negara perlu menjamin kehidupan beragama berkembang dengan baik.
“Kita menginginkan agar agama tidak menghalangi negara, dan agama tidak dihalangi oleh negara,” katanya.
Muzani juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi umat Hindu. Menurut dia, umat yang kuat tidak hanya ditandai oleh kehidupan spiritual, tetapi juga kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
“Umat Hindu yang paling kuat cirinya adalah jika umat Hindu dompetnya tambah tebal,” kata Muzani.
Ia menilai kemandirian ekonomi memungkinkan umat berkontribusi lebih besar kepada masyarakat. Semangat saling membantu, menurut Muzani, merupakan bagian dari karakter bangsa Indonesia yang perlu terus dijaga.
“Bantu membantu menjadi ciri Indonesia, bukan karena kita kelebihan atau banyak uang, tapi kita merasa punya kewajiban membantu orang yang memerlukan,” ujarnya.
Muzani turut mengapresiasi peran sulinggih dan pandita dalam menjaga kerukunan serta mendampingi umat ketika menghadapi persoalan, konflik, maupun bencana. Ia menilai kontribusi para tokoh agama tersebut penting bagi terpeliharanya persatuan dan semangat gotong royong.
Selain itu, Muzani mengingatkan pembangunan ekonomi dan infrastruktur perlu disertai penguatan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Menurut dia, kemajuan material tidak akan memberikan makna yang utuh apabila tidak diiringi persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.
“Pertumbuhan ekonomi kita di atas 5,5 persen setiap tahun akan menuju pada kehidupan duniawi yang luar biasa. Pembangunan infrastruktur kita luar biasa, kemajuan pembangunan fisik kita luar biasa. Tetapi tanpa dibarengi dengan Dharma Agama, kemajuan itu rasanya tidak berarti banyak,” tuturnya.
Muzani mengajak pengurus PHDI mendatang terus berkontribusi bagi kehidupan beragama, kehidupan bernegara, dan persatuan masyarakat Indonesia.
“Kepada pengurus PHDI yang akan datang, teruslah memberi bakti kepada negara, teruslah memberi bakti kepada agama, teruslah memberi kontribusi yang makin besar dalam kehidupan bernegara dan dalam persatuan kita semuanya,” katanya.
Mahasabha XIII PHDI berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 dengan tema “Penguatan PHDI Melalui Dharma Agama dan Dharma Negara Menuju Indonesia Raya”. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan dari 35 PHDI provinsi serta 251 dari 303 PHDI kabupaten/kota.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang turut hadir dalam pembukaan, menekankan pentingnya mengembangkan “kurikulum cinta” untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Semakin terasa pentingnya kita mengembangkan kurikulum cinta. Jika cinta sudah berbicara, maka semuanya akan ringan, semuanya akan terang, dan semuanya akan mudah,” ujar Nasaruddin.
Ia mengajak masyarakat, termasuk para tokoh agama, menumbuhkan rasa cinta sebagai fondasi kehidupan bersama. Menurut dia, nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan personal, tetapi juga dapat memperkuat kehidupan sosial dan kebangsaan.
“Mari kita memupuk rasa cinta yang sedalam-dalamnya,” katanya.
Nasaruddin juga menyinggung ketertarikannya terhadap kitab Bhagavad Gita. Ia mengatakan telah membaca kitab tersebut hingga dua kali khatam dan menemukan bagian-bagian yang relevan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat Indonesia.
Menurut Nasaruddin, keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa.
“Cara mengembangkan masyarakat, bangsa Indonesia yang sangat plural ini, dan kita bersyukur dan kita berbangga karena meskipun kita paling populer di kolong langit ini, tetapi kita menjadi contoh bahwa kita, Indonesia adalah sebuah negara yang patut untuk menjadi teladan dalam meramu perbedaan,” ujarnya.
Ia mengatakan keberagaman tersebut disatukan dalam identitas kebangsaan yang tercermin melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika.










