Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan fakta mengejutkan terkait iklim investasi di kawasan ASEAN. Ia menyebut, banyak investor global kini lebih memilih menanamkan modalnya di Indonesia karena faktor keamanan, dibandingkan negara tetangga di mana para pengusaha kerap menjadi korban penculikan.
Hal tersebut disampaikan Dasco saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (12/2).
“Di satu negara mereka berinvestasi okelah tenaga murah, tapi keamanan kurang terjamin. Para pengusaha itu kerap kali diculik kemudian dimintakan tebusan,” ujar Dasco.
Zona Perang dan Senjata Bebas
Dasco menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto mendengar langsung pengakuan para pengusaha tersebut. Di negara-negara tertentu, meski biaya tenaga kerja rendah, risiko keselamatan sangat tinggi.
Bahkan, Dasco menuturkan nasib para pengusaha itu tak jarang berakhir tragis. Setelah diculik, mereka dibawa ke wilayah perbatasan yang merupakan zona konflik bersenjata, dan ada yang tidak pernah kembali.
“Itu mereka diculik kadang-kadang enggak pulang karena di sana senjata bebas misalnya,” tuturnya.
Puji Demo Buruh RI yang Tertib
Kondisi mencekam tersebut, menurut Dasco, berbanding terbalik dengan Indonesia. Ketua Harian Partai Gerindra ini menilai, meski iklim demokrasi di Tanah Air kerap diwarnai aksi unjuk rasa buruh, stabilitas keamanan tetap terjaga.
Aksi protes buruh di Indonesia dinilai tidak membahayakan nyawa investor.
“Masalah keamanan itu mereka rasakan nomor satu di Indonesia. Buruh paling ya teriak-teriak, habis itu ya sudah pulang,” ucap Dasco.
Oleh karena itu, ia mengklaim Indonesia kini menjadi destinasi utama investasi global (“number one choice“), mengalahkan negara-negara yang hanya menawarkan upah murah namun berisiko tinggi.
Syarat bagi Investor Asing
Kendati demikian, Dasco menegaskan pemerintah tidak ingin Indonesia hanya dijadikan pasar. Ia mencontohkan industri mobil listrik, di mana investor asing wajib membuka lapangan kerja dan melibatkan pengusaha lokal dalam rantai pasoknya.
“Mungkin dalam waktu dekat mereka boleh jualan mobil, tapi kemudian sole agent segala macam itu harus dibuka dan dimiliki oleh orang Indonesia. Sehingga kesempatan kerja membuka lapangan kerja itu kemudian akan terbuka luas,” pungkasnya.










