Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong sinergi strategis antara gerakan buruh dan koperasi sebagai jalan baru menuju kesejahteraan pekerja. Menurutnya, perjuangan kaum buruh tidak boleh hanya berhenti pada tuntutan hak normatif, tetapi juga harus merambah pada kemandirian ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Ferry saat hadir sebagai narasumber tunggal dan menyampaikan pidato kunci dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di Jakarta, Kamis (12/2).
“Buruh adalah kekuatan besar bangsa, hampir 40 persen dari total pekerja Indonesia. Karena itu penguatannya tidak cukup hanya melalui perjuangan hak kerja, tetapi juga lewat koperasi sebagai wadah membangun usaha bersama yang profesional, terarah, dan berkelanjutan,” ujar Ferry.
“Rumah Perjuangan vs Rumah Kesejahteraan”
Politikus Partai Gerindra ini menekankan filosofi peran yang saling melengkapi antara serikat pekerja dan koperasi. Jika serikat pekerja fokus pada advokasi, maka koperasi harus menjadi mesin ekonomi.
“Serikat adalah rumah perjuangan, koperasi adalah rumah kesejahteraan. Keduanya harus saling melengkapi,” tegas Ferry yang disambut antusias peserta Rakornas.
Ferry meyakini, dengan tata kelola yang baik dan partisipasi aktif anggota, koperasi dapat menjadi instrumen nyata bagi para pekerja untuk memiliki aset usaha sendiri. Hal ini dinilai sebagai langkah konkret mewujudkan keadilan sosial.
“Inilah jalan untuk membangun kemandirian ekonomi, memperluas kepemilikan usaha di tangan para pekerja,” tambahnya.
Dihadiri Petinggi KSPSI
Dalam acara tersebut, Ferry juga mengapresiasi tema Rakornas yang mengangkat isu kolaborasi gerakan koperasi. Tampak hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum DPP KSPSI Moh. Jumhur Hidayat, Wakil Ketua Idrus, Sekretaris Jenderal Arif Minardi, serta seluruh jajaran pengurus pusat dan daerah.










