Elon Musk Ramal Ahli Bedah Manusia Bakal Diganti AI

Pengusaha terkemuka Amerika Serikat (AS), Elon Reeve Musk alias Elon Musk. (Getty Images)
Pengusaha terkemuka Amerika Serikat (AS), Elon Reeve Musk alias Elon Musk. (Getty Images)

Elon Musk prediksi robot bedah akan lebih unggul dari ahli bedah manusia dalam 5 tahun. Simak tanggapan dunia medis dan potensi risiko AI dalam bidang kesehatan.

Generasi.co, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) terus memicu perdebatan tentang masa depan profesi manusia.

Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, kembali membuat pernyataan kontroversial dengan meramalkan bahwa ahli bedah manusia akan sepenuhnya tergantikan oleh robot dalam lima tahun ke depan.

Melalui akun X (sebelumnya Twitter), Musk menyatakan:

“Robot akan melampaui ahli bedah manusia yang baik dalam beberapa tahun dan ahli bedah manusia terbaik dalam ~5 tahun.

@Neuralink harus menggunakan robot untuk pemasangan elektroda komputer otak, karena mustahil bagi manusia mencapai kecepatan dan ketepatan yang dibutuhkan.”

Pernyataan ini bukan yang pertama kali dilontarkan Musk tentang potensi AI dalam dunia medis.

Awal tahun 2025, ia mengklaim bahwa Grok, chatbot AI milik perusahaannya, mampu mendiagnosis cedera medis.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Grok sendiri yang menyarankan pengguna untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Respons Dunia Medis

Sejumlah dokter dan ahli bedah meragukan prediksi Musk. Mereka menekankan bahwa:

  1. Presisi bukan segalanya – Prosedur bedah membutuhkan pertimbangan klinis, empati, dan kemampuan mengambil keputusan kompleks yang belum bisa sepenuhnya direplikasi AI.
  2. Tanggung jawab hukum – Kesalahan diagnosis atau operasi oleh AI bisa berakibat fatal, sementara pertanggungjawaban hukum masih menjadi area abu-abu.
  3. Faktor manusia – Interaksi dokter-pasien dan kemampuan memahami konteks psikologis pasien tetap menjadi keunggulan manusia.

Big Tech Berebut Pasar AI Kesehatan

Musk bukan satu-satunya yang melihat potensi AI di bidang kesehatan:

  • Google DeepMind: CEO Demis Hassabis menyatakan AI bisa “menyembuhkan semua penyakit” dalam beberapa tahun.
  • OpenAI: Banyak pengguna ChatGPT melaporkan menggunakan chatbot untuk masalah kesehatan kronis.
  • Microsoft: Meluncurkan alat diagnostik AI untuk penyakit langka yang diklaim bisa meningkatkan kualitas hidup.

AI dalam Kesehatan: Haruskah Kita Khawatir?

Meski menawarkan efisiensi, penerapan AI di dunia medis menghadapi tantangan besar:

  • Akurasi diagnosis: Kesalahan AI bisa berakibat fatal.
  • Etika medis: Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi malpraktek oleh robot?
  • Keamanan data: Kerahasiaan rekam medis pasien harus tetap terjaga.

Bagaimana pendapat Anda?

Setujukah dengan ramalan Musk bahwa ahli bedah manusia akan sepenuhnya tergantikan, atau justru melihat ini sebagai kolaborasi masa depan antara manusia dan mesin?

(BAS/Red)