Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, mengungkapkan bahwa PT Pupuk Indonesia (Persero) berhasil melakukan penghematan anggaran secara signifikan hingga mencapai Rp4,1 triliun.
Alih-alih masuk ke kas perusahaan sebagai keuntungan korporasi, Sudaryono memastikan dana jumbo tersebut dialihkan kembali kepada petani dalam bentuk diskon harga pupuk.
Hal itu disampaikan Sudaryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (20/01).
“Bagi perusahaan lain, uang segini mungkin langsung masuk kantong sebagai keuntungan korporasi. Tapi bagi kami di Pupuk Indonesia, uang ini bukan hak kami untuk dinikmati sendiri,” ujar Sudaryono.
Diskon 20 Persen Tanpa Bebani APBN
Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan bahwa hasil efisiensi tersebut dikonversi langsung menjadi potongan harga pupuk sebesar 20 persen. Tujuannya adalah meringankan beban produksi petani agar memiliki ruang napas lebih dalam mengelola modal tanam.
Yang menarik, Sudaryono menekankan bahwa kebijakan ini murni hasil perbaikan tata kelola dan pemangkasan biaya yang tidak perlu, tanpa meminta tambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepeser pun.
“Hebatnya, semua ini bisa terlaksana tanpa perlu minta tambah anggaran negara atau mengganggu APBN. Kami hanya mengubah sedikit kebijakan… Istilahnya kebijakan sat-set, ringkas tapi langsung kena sasaran,” jelasnya.
Logika Sederhana Pangan
Menutup pernyataannya, Sudaryono mengingatkan kembali filosofi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pelayan masyarakat, bukan beban. Menurutnya, ketersediaan pupuk murah berkorelasi langsung dengan keamanan pangan nasional.
“Tugas BUMN itu melayani, bukan menyusahkan. Kalau pupuk lancar dan harganya terjangkau, petani senang, urusan pangan negara juga ikut aman. Semudah itu logikanya,” pungkasnya.










