Jakarta, Generasi.co — Menteri Koperasi (Menkop) RI, Ferry Juliantono, kembali menggaungkan transformasi wajah koperasi di Tanah Air. Kali ini, ia secara khusus membidik generasi Milenial dan Gen Z untuk menjadikan koperasi sebagai instrumen utama dalam membangun ekosistem bisnis yang mandiri, fleksibel, dan kolaboratif.
Menkop meyakini bahwa model koperasi sejatinya sangat relevan dengan karakteristik generasi muda saat ini yang cenderung menyukai kebebasan berkarya dan memiliki ambisi kuat untuk menjadi entrepreneur mandiri.
“Koperasi bukan lagi model lama yang kaku. Nilai-nilai kebebasan dan fleksibilitas itu sejalan dengan koperasi modern yang berbasis komunitas, kolaborasi, dan kekuatan anggota,” tegas Ferry dalam pernyataannya.
Rumah Besar bagi Pekerja Industri Kreatif
Menepis anggapan bahwa koperasi hanya berkutat pada simpan pinjam konvensional atau sektor agrikultur semata, Ferry menyoroti potensi besar koperasi di sektor ekonomi kreatif digital. Ia mendorong para pekerja kreatif untuk mulai melek terhadap kekuatan kolektif yang ditawarkan oleh badan usaha ini.
“Koperasi hari ini bisa menjadi rumah besar bagi para animator, konten kreator, desainer, developer, hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya untuk tumbuh bersama. Jika teman-teman memiliki kreativitas dan ingin membangun usaha, bentuklah koperasi,” pesannya.
Kemenkop Siapkan Inkubasi dan Karpet Merah Pembiayaan
Sebagai bentuk komitmen nyata dari pemerintah, Kementerian Koperasi menyatakan kesiapannya untuk menggelar “karpet merah” bagi kelompok anak muda yang berniat merintis koperasi.
Pemerintah menyadari bahwa hambatan terbesar bagi pengusaha muda sering kali bermuara pada persoalan modal dan tata kelola bisnis. Oleh karena itu, Menkop menginstruksikan jajaran kementerian hingga dinas koperasi di daerah untuk proaktif memberikan fasilitasi penuh.
“Datang ke Kementerian Koperasi atau dinas koperasi terdekat. Kami siap mendampingi, menginkubasi, memperkuat model bisnis, hingga membantu akses pembiayaan. Karena kami ingin anak muda tidak kesulitan memulai hanya karena akses modal tertutup,” pungkas Ferry.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menciptakan gelombang sociopreneur muda yang tidak hanya berorientasi pada profit individu, tetapi juga pada kesejahteraan komunitas dan ekosistem bisnis yang inklusif.










