Lestari Moerdijat: Minat Baca Gen Z Harus Jadi Momentum untuk Peningkatan Literasi Nasional

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat /Ist.

Jakarta, Generasi.co — Menggeliatnya aktivitas membaca di kalangan Generasi Z (Gen Z) belakangan ini dinilai sebagai momentum emas yang tak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendesak seluruh pemangku kepentingan untuk segera merumuskan langkah strategis, guna mengubah tren positif ini menjadi lompatan nyata bagi tingkat literasi nasional.

Menurut perempuan yang akrab disapa Rerie ini, tingginya angka minat baca di kalangan anak muda adalah fondasi awal, namun belum secara otomatis berbanding lurus dengan tingginya tingkat pemahaman atau literasi masyarakat.

“Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan, dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia,” ujar Rerie dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026).

Data Jakpat: Gen Z Kalahkan Milenial dan Gen X

Pernyataan Rerie bukan tanpa dasar. Laporan terbaru dari lembaga riset Jakpat pada semester kedua 2025 memotret pergeseran gaya hidup anak muda yang mulai mencari alternatif kegiatan berkualitas untuk mengisi waktu luang.

Data tersebut menunjukkan bahwa Gen Z mencetak persentase aktivitas membaca tertinggi dibandingkan dua generasi di atasnya:

  • Gen Z (14–29 tahun): Memimpin dengan angka 26%.
  • Milenial (30–45 tahun): Berada di posisi kedua dengan 20%.
  • Gen X (46–61 tahun): Menempati posisi terbawah dengan 18%.

Tiga Langkah Strategis Dongkrak Literasi

Agar momentum 26% Gen Z yang aktif membaca ini tidak sekadar berakhir sebagai angka statistik, Legislator dari Dapil II Jawa Tengah tersebut memaparkan tiga langkah strategis yang harus segera dieksekusi:

1. Menghidupkan Komunitas Baca Organik Pemerintah dan swasta perlu memfasilitasi pergerakan komunitas baca, baik yang berbasis digital maupun fisik. Tujuannya adalah memicu ruang diskusi dan tradisi resensi buku yang tumbuh secara organik di tengah masyarakat.

2. Transformasi Tugas di Institusi Pendidikan Sekolah dan perguruan tinggi dituntut untuk tidak sekadar menyuruh siswa membaca. Sistem pendidikan harus mulai membiasakan pemberian tugas yang menuntut siswa untuk mengolah, mengkritisi, dan menyajikan ulang informasi dari bahan bacaan agar daya nalar analitis mereka terasah.

3. Kebijakan Penghapusan Pajak Buku Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini secara khusus menyoroti masalah aksesibilitas dan harga. Ketersediaan buku di perpustakaan harus diperbanyak, baik dalam format cetak maupun digital. Lebih dari itu, pemerintah dituntut untuk merumuskan kebijakan afirmatif guna menekan harga jual buku.

“Harus segera hadir kebijakan yang mampu mewujudkan keterjangkauan bahan bacaan bagi masyarakat, salah satunya melalui penghapusan pajak buku dan pemberian keringanan harga kertas cetak,” tegas Rerie.

Dengan sinergi langkah-langkah tersebut, Rerie meyakini Indonesia mampu menciptakan ekosistem literasi nasional yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan.