Berkaca dari Tangis Adit di Sekolah Binaan Prabowo, Wamentan Sudaryono Ingatkan Negara Wajib Jamin Pendidikan Setara

Berkaca dari Tangis Adit di Sekolah Binaan Prabowo, Wamentan Sudaryono Ingatkan Negara Wajib Jamin Pendidikan Setara/IG

Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono, menyoroti urgensi pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak daerah berekonomi lemah. Pesan mendalam ini ia sampaikan dengan mengangkat kisah inspiratif seorang anak yatim piatu bernama Adit, yang kini merajut asa menjadi tentara melalui sekolah binaan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi Sudaryono, kisah Adit bukan sekadar cerita haru, melainkan tamparan keras tentang realita pendidikan di akar rumput yang kerap terbentur tembok biaya.

“Melihat Adit menangis sambil memasang dasi, dada ini berasa nyeri. Dia anak tanpa orang tua semenjak lahir. Neneknya mengambil alih peran ayah merangkap ibu,” ungkap Wamentan Sudaryono menceritakan momen emosional tersebut.

Tembok Biaya dan Semangat Baja Sang Nenek

Sudaryono memaparkan bahwa banyak anak di daerah yang telanjur pesimis menatap masa depan karena kemiskinan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi nenek Adit. Kerutan wajah perempuan tua tersebut menjadi saksi bisu penolakannya terhadap nasib buruk; ia menolak keras cucunya putus sekolah atau harus memikul beban kerja berat di usia dini.

Dorongan kuat sang nenek akhirnya mengantarkan Adit masuk ke sekolah binaan Pak Prabowo. Fasilitas pendidikan tersebut menjadi oase di tengah pesimisme, membuka jalan bagi Adit untuk mewujudkan cita-citanya mengenakan seragam loreng kebanggaan militer.

Tidak Boleh Ada Lagi Mimpi yang Putus

Merespons realita sosial tersebut, pria yang akrab disapa Mas Dar ini menegaskan bahwa kisah Adit adalah representasi dari tanggung jawab konstitusional negara. Pemerintah pusat hingga daerah didesak untuk tidak abai terhadap hak dasar warganya.

“Pemerintah wajib menjamin akses pendidikan setara, karena setiap anak berhak mendapat pendidikan. Tidak boleh ada lagi mimpi putus di tengah jalan,” tegas Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut.

Melalui pesan ini, Sudaryono menekankan bahwa intervensi fasilitas pendidikan yang tepat sasaran, seperti yang digagas oleh Prabowo Subianto, merupakan kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan dan menyelamatkan generasi emas Indonesia di masa depan.