Krisis Kepercayaan pada Dunia Medis Meningkat, Ini Penyebab dan Solusinya

Ilustrasi Pesien dan Dokter/Unsplash

Generasi.co, Aspen – Menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi kesehatan, kedokteran, dan sains kembali menjadi sorotan setelah hasil Edelman Trust Barometer menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut dinilai bukan fenomena baru, melainkan masalah yang telah lama berkembang dan kini semakin terlihat karena pengaruh media sosial.

Dilansir melalui Forbes, pakar kesehatan masyarakat menilai komunitas di berbagai negara sebenarnya sudah lama menunjukkan sikap skeptis terhadap dunia medis dan sains. Namun, para ilmuwan, dokter, dan pembuat kebijakan dinilai jarang mendengarkan langsung pengalaman masyarakat sehingga menganggap tingkat kepercayaan publik masih tinggi.

Data dari Pew Research Center juga menunjukkan pola serupa selama bertahun-tahun. Menurut pengamat kesehatan, media sosial kini membuat setiap orang memiliki ruang untuk menyebarkan sekaligus mengonsumsi informasi mengenai sains, baik yang benar maupun yang keliru.

Co-Founder Coalition for Trust in Science and Health, Reed Tuckson, mengatakan rendahnya kepercayaan terhadap institusi kesehatan bukan persoalan baru.

“Fenomena ini memiliki akar sejarah yang panjang,” kata Tuckson.

Ia menelusuri kemunculan ketidakpercayaan tersebut mulai dari gerakan kebebasan medis pada Abad Pertengahan hingga berbagai teori konspirasi yang berkembang selama epidemi HIV dan pandemi COVID-19.

Berbagai pengalaman masyarakat dinilai turut memperlebar jarak kepercayaan terhadap sistem kesehatan. Mulai dari pasien yang pulang dari rumah sakit tanpa penjelasan memadai mengenai kondisinya, veteran militer yang mengetahui penyakit baru melalui portal kesehatan tanpa bisa menghubungi dokternya, hingga masyarakat yang merasa dokter menggunakan istilah rumit yang sulit dipahami.

“Saya tidak akan pergi ke dokter kecuali saya sekarat. Saya tidak suka dokter karena mereka menggunakan kata-kata besar untuk membingungkan pasien,” ujar seorang anggota komunitas yang dikutip dalam tulisan tersebut.

Ketidakpercayaan juga muncul dalam dunia penelitian. Banyak orang masih menganggap uji klinis sebagai bentuk eksperimen yang menjadikan manusia sebagai “kelinci percobaan”. Menurut penulis, dunia kesehatan belum mampu menjelaskan secara terbuka berbagai kesalahan penelitian di masa lalu untuk membangun kembali kepercayaan publik.

Pandangan serupa juga terlihat saat pandemi COVID-19. Sebagian masyarakat mempertanyakan alasan perlunya vaksin ketika hasil tes COVID-19 mereka negatif. Kondisi itu dinilai mencerminkan kegagalan sistem kesehatan dalam menjelaskan informasi ilmiah dan kesehatan masyarakat secara sederhana.

Tuckson menyebut polarisasi dan kecenderungan masyarakat membentuk kelompok berdasarkan keyakinan tertentu turut memperburuk situasi. Di sisi lain, komunitas ilmiah juga dianggap sebagai kelompok eksklusif dengan bahasa dan cara komunikasi yang sulit dipahami publik.

Karena itu, para ahli mendorong perubahan nyata dalam budaya organisasi kesehatan dan sains. Mereka meminta penggunaan bahasa yang lebih sederhana, sistem pelayanan yang lebih mudah diakses, serta keterlibatan langsung para pemimpin kesehatan untuk mendengarkan dan menjawab keraguan masyarakat.

“Komunitas sedang berbicara kepada kita dengan suara yang semakin keras. Kita harus mendengarkan dan merespons dengan kerendahan hati serta rasa mendesak,” tulis penulis.

Menurutnya, membangun kembali kepercayaan terhadap sains, kesehatan masyarakat, dan institusi medis tidak cukup hanya melalui penelitian dan diskusi. Diperlukan perubahan perilaku dan komitmen jangka panjang agar hubungan antara masyarakat dan institusi kesehatan dapat dipulihkan.