Di PBB, Sugiono Tekankan Pentingnya Ketahanan Nasional

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono/Kemlu

Generasi.co, NEW YORK – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan pentingnya membangun ketahanan nasional sebagai fondasi bagi kawasan yang stabil dan sistem multilateral yang mampu menghadapi tantangan global.

Hal tersebut disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2026).

“81 tahun lalu, Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa lahir dengan sebuah keyakinan dan tujuan yang sama, yaitu untuk tidak menyerahkan masa depan umat manusia kepada perang dan perpecahan,” ujar Sugiono.

Menurut Sugiono, delapan dekade terakhir membawa berbagai kemajuan, tetapi dunia masih menghadapi krisis dan konflik. Karena itu, multilateralisme harus mampu beradaptasi, merespons tantangan, dan memberikan hasil.

“Delapan dekade terakhir telah membawa berbagai kemajuan. Namun, dunia juga terus menghadapi berbagai krisis dan konflik. Pelajarannya jelas, yaitu agar perdamaian dan kemakmuran dapat bertahan, multilateralisme juga harus tangguh,” katanya.

Sugiono mengatakan ketahanan setiap negara menjadi dasar untuk membangun multilateralisme yang tangguh. Indonesia, kata dia, memperkuat ketahanan nasional melalui kemandirian pangan, ketahanan energi, investasi di bidang pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan ekonomi yang mampu menghadapi berbagai guncangan.

“Sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, Indonesia juga menempatkan persatuan dalam keberagaman, demokrasi, HAM, dan supremasi hukum sebagai bagian penting dari ketahanan nasional. Dari Aceh sampai Papua, dari Miangas sampai Rote, Indonesia adalah satu rakyat, satu bangsa,” ujarnya.

Sugiono menilai ketahanan nasional kemudian menjadi fondasi bagi ketahanan kawasan. Dia mencontohkan ASEAN yang selama hampir enam dekade mampu mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan mencari titik temu.

“Persatuan dan sentralitas ASEAN memungkinkan kawasan untuk tetap membuka ruang dialog dan kerja sama dengan semua mitra, termasuk di tengah meningkatnya kompetisi strategis,” kata Sugiono.

Pada tingkat global, Sugiono mengatakan PBB memiliki peran yang tidak tergantikan. Namun, sistem multilateral juga harus terus bertransformasi agar lebih representatif, tangkas, dan mampu memberikan hasil konkret.

“Jawaban terhadap multilateralisme yang belum sempurna bukanlah mengurangi multilateralisme. Jawabannya adalah multilateralisme yang lebih baik,” tegasnya.

Sugiono juga menyoroti Palestina sebagai salah satu ujian bagi sistem multilateral.

“Palestina bukan hanya persoalan satu kawasan. Isu Palestina merupakan ujian apakah sistem multilateral mampu menegakkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukannya dan memberikan hasil ketika paling dibutuhkan,” ujarnya.

Indonesia, kata Sugiono, akan terus mendukung rakyat Palestina hingga hak menentukan nasib sendiri terpenuhi dan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat terwujud berdasarkan Solusi Dua Negara, sesuai hukum internasional dan parameter yang telah disepakati secara internasional.

Sugiono juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk terus berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional melalui diplomasi dan mediasi, bantuan kemanusiaan, pembangunan perdamaian, serta kontribusi pada misi pemeliharaan perdamaian PBB.

Dalam forum tersebut, Sugiono turut menyampaikan pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030 dengan tema “Fostering Unity, Advancing Peace”.

Menurut Sugiono, Indonesia akan membawa pendekatan yang selama ini menjadi landasan politik luar negerinya, yakni menjaga dialog tetap terbuka, membangun titik temu, menjunjung Piagam PBB secara konsisten, dan menerjemahkan tanggung jawab bersama menjadi kerja sama konkret.

Mengakhiri pernyataannya, Sugiono meneruskan seruan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum PBB tahun sebelumnya agar negara-negara semakin mendekat, bukan semakin menjauh.

“Ketika kita semakin dekat, mari kita juga saling memperkuat. Cukup kuat agar negara kita mampu menghadapi krisis, kawasan kita mampu menjaga kerja sama, dan institusi kita mampu memberikan hasil bagi masyarakat,” ujar Sugiono.

“Hanya melalui ketahanan bersama, PBB akan cukup kuat untuk memenuhi janji yang kita buat 81 tahun lalu: masa depan yang damai bagi generasi mendatang,” pungkasnya.