Generasi.co, Jakarta – Memiliki aset investasi minimal US$1 juta ternyata belum cukup membuat mayoritas jutawan di Amerika Serikat (AS) merasa kaya. Survei Northwestern Mutual 2025 Planning and Progress menunjukkan hanya 36 persen jutawan di AS yang menganggap dirinya kaya.
Survei tersebut mencakup warga AS dengan aset investasi minimal US$1 juta. Sebanyak 49 persen responden jutawan juga menilai perencanaan keuangan mereka masih perlu diperbaiki.
Kekhawatiran utama mereka meliputi risiko kehabisan tabungan selama hidup, dampak pajak saat pensiun, serta kebutuhan perawatan jangka panjang.
Dikutip dari Yahoo News, Jumat (19/12/2025), perubahan persepsi terhadap kekayaan ini berkaitan dengan kenaikan biaya hidup, usia harapan hidup yang lebih panjang, serta meningkatnya kebutuhan finansial untuk mencapai rasa aman.
Tom Mathews, perencana keuangan bersertifikat sekaligus akuntan publik dan penulis buku How Money Works, mengatakan status jutawan tak lagi menjamin seseorang merasa telah mencapai kemapanan finansial.
“Menjadi jutawan dulu berarti Anda telah sukses dan berhasil mencapai kemapanan. Sekarang, itu benar-benar hanya berarti Anda telah melewati batas yang sudah ketinggalan zaman,” kata Mathews.
Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata jumlah uang yang dimiliki, melainkan berkurangnya kepastian dan kendali atas kondisi keuangan.
Inflasi, kenaikan pajak, gejolak pasar, serta meningkatnya biaya perumahan, layanan kesehatan, dan pendidikan turut mengubah persepsi masyarakat terhadap keamanan finansial.
Mathews juga menyoroti bahwa sebagian besar kekayaan jutawan mungkin terikat pada aset yang tidak mudah dicairkan, seperti rumah, rekening pensiun, atau bisnis. Kondisi tersebut membuat nilai kekayaan di atas kertas tidak selalu mencerminkan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Usia hidup yang semakin panjang juga membuat portofolio senilai jutaan dolar harus menopang kebutuhan hidup selama puluhan tahun, termasuk biaya medis yang terus meningkat.
Sementara itu, survei Charles Schwab 2025 Modern Wealth Survey mencatat rata-rata kekayaan bersih yang dianggap cukup untuk mencapai kenyamanan finansial oleh warga AS sebesar US$839.000. Namun, untuk merasa kaya, mereka menilai dibutuhkan kekayaan bersih rata-rata US$2,3 juta.
Sebanyak 63 persen responden Schwab menyebut bahwa mencapai status kaya kini membutuhkan lebih banyak uang dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi menjadi alasan utama yang disebutkan 73 persen responden, disusul kondisi ekonomi yang memburuk (62 persen) dan pajak yang lebih tinggi (48 persen).
Mathews menilai rasa kaya tidak hanya ditentukan oleh akumulasi harta, tetapi juga keyakinan seseorang terhadap kondisi keuangannya.
“Inti sebenarnya adalah kekayaan bukan lagi soal akumulasi. Ini tentang keyakinan,” ujarnya.
Untuk membangun rasa aman finansial, perencanaan yang jelas, pengurangan utang, peningkatan tabungan, serta pendampingan profesional dapat membantu seseorang memahami kondisi dan tujuan keuangannya.
Studi Northwestern Mutual menemukan jutawan cenderung melaporkan disiplin, kepercayaan diri, dan kejelasan finansial yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata warga AS.
Survei itu juga mencatat 74 persen jutawan menggunakan jasa penasihat keuangan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan masyarakat umum yang mencapai 34 persen.










