Pimpinan DPR temui mahasiswa usai demo besar. Mahasiswa desak tim investigasi independen untuk usut kekerasan dan klarifikasi dugaan makar dari Presiden Prabowo.
Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan alasan pimpinan dewan tidak menemui massa demonstran saat unjuk rasa berlangsung di Kompleks DPR/MPR Senayan, Jakarta. Menurut Dasco, suasana aksi pada saat itu tidak kondusif untuk dilakukan dialog langsung.
“Kemarin dalam aksi penyampaian pendapat sebenarnya kami juga mau keluar untuk menerima seperti pada hari ini,” ujar Dasco kepada media di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip pada Kamis (4/9/2025).
Ia menyebut, adanya pihak-pihak yang mencoba menunggangi aksi menyebabkan situasi menjadi tidak aman bagi interaksi langsung antara pimpinan DPR dan massa.
“Kalau yang kemarin-kemarin, begitu kita mau keluar, itu sudah bukan murni unjuk rasa. Ada pihak-pihak penumpang gelap yang tentunya suasana di lapangan tidak kondusif,” katanya.
Pimpinan DPR Temui Mahasiswa
Berbeda dari sebelumnya, hari ini sejumlah pimpinan DPR menerima perwakilan mahasiswa dalam pertemuan resmi di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Cucun Ahmad Syamsurijal (PKB), dan Saan Mustofa (NasDem).
Ketua BEM Universitas Indonesia Agus Setiawan yang mewakili mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan penting dalam pertemuan tersebut. Salah satu desakan utama adalah pembentukan tim investigasi independen untuk menyelidiki kekerasan yang terjadi sepanjang gelombang unjuk rasa di bulan Agustus.
“Saya ingin ada pembentukan tim investigasi yang independen untuk mengusut tuntas berbagai kekerasan yang berlangsung sepanjang bulan Agustus ini,” ujar Agus.
Ia juga menyinggung krisis multidimensi yang dirasakan selama beberapa waktu terakhir, mencakup isu demokrasi, legislasi, ekonomi, hingga keamanan. Menurutnya, mahasiswa tergerak turun ke jalan sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa.
Salah satu pemicu utama aksi mahasiswa, kata Agus, adalah insiden meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, yang tewas setelah tertabrak kendaraan taktis (rantis) milik Brimob dalam aksi di Jakarta pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
“Kala itu Affan Kurniawan menjadi korban meninggalnya dari aparat penegak hukum yang seakan-akan sengaja, dan inilah yang memantik rasa kemanusiaan kami untuk hadir di jalanan, pun juga hadirnya kami hari ini,” tambah Agus.
Respons atas Dugaan Makar
Agus juga menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut adanya indikasi makar dalam rangkaian demonstrasi. Menurutnya, pernyataan tersebut justru menimbulkan ketakutan dan menghambat semangat mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi secara terbuka.
“Dan inilah yang kemudian menghambat kami, jujur saja menghambat kami untuk turun ke jalanan lagi, karena kami khawatir bahwa gerakan kami hari ini justru ditunggangi oleh sejumlah oknum ini,” ucap Agus.
Ia menegaskan tim investigasi independen juga perlu mengusut kebenaran dari pernyataan Presiden tersebut.
“Pun juga dengan dugaan makar yang keluar dari mulut bapak Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin tim investigasi ini mengusut tuntas semuanya, sehingga kemudian apa yang disampaikan bapak Presiden dapat dibuktikan,” jelasnya.
Agus menilai pernyataan tersebut merugikan gerakan mahasiswa dan menciptakan persepsi negatif yang menghambat ruang gerak mereka dalam menyampaikan aspirasi.
“Karena kami dari gerakan merasa dirugikan oleh statement tersebut, yang kemudian menghalangi gerakan kami ke depan,” tutupnya.
(BAS/Red)










