Generasi.co, Jakarta – Pemerintah mulai menerapkan kebijakan penggunaan Biosolar B50 pada 1 Juli 2026. Penerapan bahan bakar dengan kandungan biodiesel 50 persen itu dinilai dapat menekan emisi karbon sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar berbasis bahan bakar fosil.
Pakar konversi energi sekaligus dosen senior Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan komposisi biodiesel yang lebih besar membuat B50 lebih ramah lingkungan dibandingkan solar konvensional.
“Pakai B50 yang jelas adalah pengurangan emisi CO2. Karena B50 kan 50 persen berasal dari nabati,” kata Tri di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, bahan baku nabati seperti minyak sawit berasal dari tanaman yang menyerap karbon dioksida dari atmosfer selama proses pertumbuhannya melalui fotosintesis. Karena itu, penggunaan biodiesel dinilai tidak menambah emisi karbon di udara.
“Buahnya diproses menjadi bahan bakar. Jadi bahan bakar nabati itu dianggap CO2-nya nol, tidak menambah CO2 di udara. Sehingga bisa dibilang kalau dari sisi pengurangan CO2 turun banyak,” ujarnya.
Menurut Tri, dengan kandungan biodiesel mencapai 50 persen, emisi karbon dioksida dari penggunaan solar berpotensi berkurang secara signifikan.
“Ya kira-kira kalau dia 50 persen, nanti mulai dengan 1 Juli berarti kontur dari bahan bakar solar mengemisikan CO2 ya tinggal 50 persen juga turunnya,” katanya.
Selain berdampak pada lingkungan, Tri menilai kebijakan B50 juga akan memperkuat ketahanan energi nasional karena meningkatkan pemanfaatan bahan bakar yang diproduksi di dalam negeri.
“Selain itu, yang lain kan ada (tujuan) pemerintah adalah karena kita menggunakan produk nasional dalam negeri, maka impor solarnya kan bisa turun ya,” ujarnya.
Dengan berkurangnya impor solar, Indonesia dinilai dapat menghemat devisa sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik, khususnya minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, Tri mengingatkan penerapan Biosolar B50 juga perlu diantisipasi oleh pemilik kendaraan diesel. Kandungan biodiesel yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan endapan pada sistem bahan bakar dan mempercepat penggantian filter solar pada kendaraan yang belum sepenuhnya kompatibel.
Karena itu, pengguna kendaraan diesel disarankan tetap mengikuti rekomendasi pabrikan terkait jenis bahan bakar yang digunakan serta menjalankan perawatan berkala sesuai jadwal.










