Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda

Dolar/Unssplash

Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, berada dalam risiko membuat sejumlah kesalahan finansial yang dapat berdampak jangka panjang pada stabilitas keuangan mereka. Beberapa ahli keuangan dan pengusaha muda internasional memperingatkan kecenderungan tersebut dan menyarankan strategi untuk memperbaiki kebiasaan ini.

1. Terlalu Bergantung pada Pembayaran “Buy-Now-Pay-Later” (BNPL) dan Kartu Kredit

Katrin Kaurov, CEO Frich — platform keuangan sosial — mengingatkan bahwa Gen Z kerap terjerat oleh layanan BNPL seperti Klarna atau Affirm, serta utang kartu kredit. Menurutnya, generasi muda sering menggunakan BNPL untuk transaksi kecil sehari-hari tanpa menyadari beban bunga atau kewajiban membayar di masa depan.

Kaurov menegaskan bahwa kartu kredit lebih tepat digunakan sebagai alat kenyamanan, bukan cara pembayaran utang jangka panjang, karena suku bunga tinggi bisa membebani mereka yang tidak melunasi saldo penuh.

2. Menunda Investasi “Karena Masih Muda”

Salah satu kesalahan utama adalah menyia-nyiakan waktu untuk mulai berinvestasi. Kaurov menyarankan agar generasi muda mulai investasi kecil secara rutin — misalnya secara otomatis menabung sebagian uang ke instrumen investasi — karena manfaat bunga majemuk akan terasa lebih besar seiring waktu.

Keterlambatan ini juga disebabkan anggapan bahwa investasi rumit atau hanya untuk orang kaya, padahal justru semakin dini memulai bisa memberi keuntungan besar dalam jangka panjang.

3. Tidak Mengatur Uang Secara Rutin (“Money Date”)

Kaurov merekomendasikan supaya anak muda menetapkan waktu rutin setiap minggu, yang disebutnya “money date”, untuk meninjau kondisi keuangan: mengulas pengeluaran, mengecek utang, dan menyesuaikan tujuan finansial. Dia menyebut ini sebagai kebiasaan penting agar tidak kehilangan kontrol atas keuangan mereka.

4. Mendewakan Gaya Hidup Instan (YOLO & FOMO)

Menurut artikel bank DBS, generasi milenial dan Gen Z sering terperangkap dalam pola pikir “YOLO” (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out), yang mendorong konsumtif dan pengeluaran impulsif. Kebiasaan ini bisa mengarah ke utang karena membeli barang mewah, liburan, atau mengikuti tren demi “eksistensi sosial”.

5. Menunda Rencana Keuangan Jangka Panjang

Generasi muda juga sering mengabaikan pentingnya tabungan darurat dan perlindungan finansial. Tanpa dana cadangan, mereka rentan ketika menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis.

6. Tidak Menyadari Risiko Digital Finance

Studi akademik internasional mengingatkan bahwa kemudahan akses ke layanan keuangan digital (seperti pinjaman online) bisa jadi pedang bermata dua. Akses kredit lebih luas memang memperkuat inklusi keuangan, tetapi juga meningkatkan risiko generasi muda terperangkap dalam utang digital atau beban pinjaman yang sulit ditangani.

Kesimpulan & Saran Ahli

  • Gen Z dan milenial harus lebih berhati-hati dalam menggunakan BNPL dan kartu kredit: tetap gunakan dengan bijak dan hindari menumpuk utang.
  • Mulai investasi sedini mungkin, meskipun dengan jumlah kecil, dan pertahankan konsistensi.
  • Buat kebiasaan meninjau keuangan (money date) untuk menjaga kontrol dan mencegah kebocoran uang.
  • Kembangkan dana darurat agar bisa menghadapi kejutan finansial tanpa jatuh ke jeratan utang.
  • Kenali risiko layanan keuangan digital: jangan hanya buru kenyamanan, tetapi pahami konsekuensi jangka panjang.

Dengan kesadaran dan kebiasaan finansial yang lebih baik, generasi muda bisa membangun pondasi keuangan yang kuat dan menghindari jebakan yang umum terjadi.