Ramai Isu Jule Gonta-Ganti Pasangan? Ini 10 Tanda Psikologis “Serial Monogamist” yang Perlu Kamu Waspadai

Potret diduga Jule/X

Belajar dari kehebohan isu Julia Prastini (Jule), kenali tanda-tanda pasangan yang tidak bisa jomblo, pelaku monkey branching, dan kecanduan fase bulan madu. Apakah ini cinta atau hanya butuh validasi?

Pendahuluan

Media sosial belakangan ini ramai membicarakan Julia Prastini alias Jule. Isu yang berhembus kencang menyoroti pola hubungannya yang dianggap “sat-set”—baru putus sebentar, sudah menggandeng yang baru, atau sering berganti pasangan dalam waktu singkat.

Terlepas dari benar atau tidaknya gosip spesifik mengenai Jule, fenomena ini sangat menarik dari kacamata psikologi. Apakah seseorang yang cepat berpindah hati itu tandanya laku keras? Atau justru tanda ketidakstabilan emosi?

Dalam psikologi, ada istilah “Serial Monogamist” (orang yang tidak betah menjomblo) dan “Monkey Branching” (memegang dahan baru sebelum melepas dahan lama).

Agar Anda tidak menjadi “korban transit” atau pelarian semata, kenali 10 tanda psikologis cewek (atau cowok) yang memiliki kecenderungan pola hubungan seperti ini:

1. Teknik “Monkey Branching”

Seperti monyet yang berayun di pohon, mereka tidak akan melepaskan pegangan pada dahan lama (mantan) sebelum tangan satunya mencengkeram kuat dahan baru (pacar baru).

Tandanya: Saat masih berpacaran dengan Anda, dia sudah memiliki “cadangan” atau teman curhat lawan jenis yang terlalu intens. Begitu putus, boom, besoknya dia sudah official dengan orang tersebut. Tidak ada masa jeda untuk berduka.

2. Teror “Fear of Being Alone” (Autophobia)

Bagi mereka, kesendirian adalah hal yang menakutkan. Mereka tidak memiliki identitas diri yang kuat jika tidak berstatus “pacar seseorang”.

Psikologinya: Mereka menjadikan hubungan romantis sebagai coping mechanism untuk lari dari masalah pribadi atau rasa kosong di hati. Jadi, siapa pun pasangannya tidak terlalu penting, asalkan “ada seseorang” yang menemani.

3. Kecanduan “Honeymoon Phase”

Perhatikan pola hubungan masa lalunya. Apakah rata-rata hanya bertahan 3-6 bulan?

Analisisnya: Mereka kecanduan dopamin dan oksitosin yang meluap di awal hubungan (fase jatuh cinta, deg-degan, butterfly in stomach). Begitu fase ini lewat dan masuk ke fase “realita” atau komitmen jangka panjang yang membosankan, mereka merasa “cinta sudah hilang” dan mencari stimulus baru dari orang lain.

4. Narasi “Semua Mantanku Gila”

Coba tanya alasan dia putus dengan para mantannya. Jika jawabannya selalu: “Si A posesif banget,” “Si B selingkuh,” “Si C toxic,” dan dia selalu memposisikan diri sebagai korban tanpa cela.

Red Flag: Dalam hubungan, jarang sekali kesalahan hanya ada di satu pihak. Ketidakmampuan untuk berefleksi (lack of accountability) adalah tanda dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan akan mengulangi pola yang sama pada Anda.

5. Love Bombing yang Agresif

Di minggu pertama kenal, dia sudah memuji Anda setinggi langit, bilang “kamu beda dari yang lain,” atau bahkan membicarakan pernikahan.

Bahayanya: Ini bukan cinta, ini manipulasi (sadar atau tidak). Love bombing bertujuan untuk mengikat Anda secara emosional dengan cepat agar Anda tidak sempat berpikir logis. Biasanya, secepat api itu menyala, secepat itu pula ia padam saat dia bosan.

6. Hubungan sebagai Konten (Validasi Eksternal)

Di era media sosial seperti kasus para selebgram, hubungan sering kali menjadi alat validasi.

Tandanya: Dia lebih peduli bagaimana hubungan kalian terlihat di Instagram/TikTok daripada bagaimana rasanya di dunia nyata. Jika engagement turun atau netizen bosan, dia mungkin secara bawah sadar mencari “drama” baru atau pasangan baru untuk menaikkan hype lagi.

7. Membandingkan Secara Halus (Triangulasi)

“Dulu mantanku sering beliin aku ini, lho.” atau “Teman cowokku si X sukses banget ya karirnya.”

Tujuannya: Ini taktik manipulasi untuk membuat Anda merasa insecure dan berlomba-lomba membuktikan diri. Dia menciptakan kompetisi imajiner agar dia merasa diperebutkan dan berharga.

8. Identitas yang Berubah-ubah (Chameleon Effect)

Saat pacaran dengan anak band, dia tiba-tiba jadi anak musik. Saat pacaran dengan pengusaha, gayanya jadi sosialita. Saat dengan anak motor, dia jadi suka touring.

Psikologinya: Orang dengan self-esteem rendah cenderung meniru kepribadian pasangannya (mirroring) agar disukai. Mereka tidak punya prinsip sendiri yang kokoh, sehingga mudah terbawa arus—dan mudah pindah arus juga.

9. Hyper-Critical (Mencari Celah untuk Pergi)

Menjelang akhir hubungan (sebelum dia lompat ke yang baru), dia akan mulai mencari-cari kesalahan kecil Anda yang sebenarnya tidak prinsipil.

Alasannya: Ini adalah cara dia merasionalisasi keputusannya untuk selingkuh atau putus. Dia memvalidasi dirinya sendiri: “Tuh kan, dia napas aja salah, mending aku sama yang baru.”

10. Tidak Ada Masa “Healing”

Normalnya, setelah putus dari hubungan serius, seseorang butuh waktu (bulan atau tahun) untuk memproses emosi, introspeksi, dan menyembuhkan luka.

Faktanya: Pelaku serial monogamy menimpa luka lama dengan orang baru. Mereka menggunakan hubungan baru sebagai “perban”. Masalahnya, luka di bawah perban itu akan membusuk dan akhirnya merusak hubungan yang baru tersebut.

Kesimpulan

Belajar dari fenomena viral seperti Jule, kita perlu paham bahwa kecepatan seseorang mendapatkan pasangan baru bukanlah tolak ukur kualitas dirinya. Sering kali, itu justru tanda ketidakmampuan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Mencari pasangan bukan soal siapa cepat dia dapat, tapi siapa yang siap berkomitmen dan berjuang saat bosan menyerang. Jika Anda mendekati seseorang dengan tanda-tanda di atas, siapkan hati: Anda mungkin hanya stasiun transit, bukan tujuan akhir.

Satu pertanyaan untuk Anda: Coba cek gebetan atau pasangan Anda sekarang. Berapa lama jeda waktu terlama dia menjomblo dalam 3 tahun terakhir? Jika jawabannya “tidak pernah”, waspadalah.

Artikel ini membuka mata? Share ke temanmu yang lagi PDKT sama orang yang “baru putus seminggu yang lalu”!