Bahaya Doom Spending Intai Gen Z, BNI Bagikan Resep Kelola Arus Kas di Jogja Financial Festival 2026

Libur Paskah 2026, BNI Siapkan Layanan Terbatas dan Digital 24 Jam/BNI

Yogyakarta, Generasi.co — Tren investasi yang kian menjamur di kalangan generasi muda nyatanya belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi pengelolaan arus kas yang mumpuni. Merespons fenomena tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI turun gunung memberikan edukasi finansial komprehensif dalam rangkaian Jogja Financial Festival 2026.

Mengusung tema besar bertajuk “Financial Management for Sustainable Growth”, kehadiran BNI sukses menyedot animo peserta yang antusias menggali ilmu tata kelola keuangan langsung dari ahlinya. Brand Manager UGM Branch Office BNI, Diah Charmaningtyas, membedah tuntas berbagai problematika finansial yang kerap menjerat anak muda masa kini.

Akar Masalah Keuangan Generasi Muda

Diah memaparkan sebuah fakta menarik bahwa masalah keuangan yang membelit generasi muda sejatinya bukan sekadar minimnya nominal penghasilan bulanan. Masalah krusial justru bersarang pada keterbatasan kemampuan individu dalam mengelola arus kas masuk dan keluar secara disiplin.

Menurutnya, anak muda mutlak harus memiliki kecakapan dalam menghitung persentase pengeluaran dari total pemasukan yang dikantongi. Praktik penganggaran wajib dilakukan secara ketat agar uang yang berada di genggaman tidak langsung menguap begitu saja, melainkan bisa dialokasikan untuk instrumen tabungan maupun investasi masa depan.

Dalam sesi pemaparannya, Diah mengingatkan pentingnya memilah sisa dana untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus melunasi berbagai kewajiban pembayaran. Setelah itu, porsi dana yang wajib disisihkan setiap bulannya untuk ditabung harus ditentukan secara pasti, bukan sekadar angan-angan. Sering kali, banyak orang hanya sekadar memikirkan besaran rasio tabungan namun abai dalam mempraktikkannya secara konsisten setiap bulannya.

Ancaman Nyata Doom Spending

Lebih jauh, pihak BNI juga menyoroti fenomena psikologis berbalut finansial yang belakangan ini marak menjangkiti kalangan muda, yakni doom spending. Kebiasaan berbelanja secara impulsif ini kerap dipicu oleh perasaan stres, kecemasan berlebih, kelelahan mental, hingga kekhawatiran mendalam terhadap ketidakpastian masa depan.

Diah menegaskan bahwa kecerdasan emosional memegang peranan vital dalam tata kelola harta. Apabila seseorang mampu menahan diri, berbelanja secukupnya, dan mengelola emosi dengan bijak, maka ia akan mampu menciptakan manajemen keuangan yang berkelanjutan dan sehat.

Sebaliknya, jika emosi dibiarkan menyetir hasrat belanja, kondisi arus kas pribadi dipastikan akan hancur berantakan. Mengingat setiap individu adalah penanggung jawab tunggal atas pemasukan dan pengeluarannya, kedisiplinan mengelola hasrat berbelanja menjadi hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar lagi.

Merancang Keuangan Berbasis Tujuan Hidup

Sebagai langkah preventif agar dompet tidak lekas terkuras habis, Diah memberikan resep pamungkas kepada para peserta edukasi untuk selalu menyandarkan tata kelola dana pada tujuan hidup. Setiap niat untuk membeli suatu barang atau jasa harus selalu diawali dengan perencanaan yang matang dan terukur.

Langkah mitigasi ini mencakup kebiasaan memantau ketersediaan dana, mengkalkulasi uang yang akan dikeluarkan, serta mempertanyakan kembali esensi dan urgensi dari pembelian barang tersebut. Melalui pendekatan yang penuh kesadaran ini, BNI berharap setiap orang pada akhirnya tetap bisa memenuhi berbagai kebutuhan dan impiannya tanpa harus dihantui bayang-bayang kebangkrutan alias dompet boncos di akhir bulan.