PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja solid. Bank swasta terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengungkapkan bahwa pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan operasional serta efisiensi biaya yang tecermin dari membaiknya rasio biaya terhadap pendapatan (Cost-to-Income Ratio/CIR).
“Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4 persen year-on-year, ratio cost-to-income atau CIR membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA,” ujar Hera dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/1).
Kredit Nyaris Tembus Rp1.000 Triliun
Dari sisi fungsi intermediasi, BCA mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 7,7 persen yoy menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Sektor manufaktur, perdagangan, perhotelan, hingga rumah tangga menjadi penopang utama penyaluran kredit tersebut.
Hera juga menyoroti pertumbuhan positif pada kredit berkelanjutan (sustainable finance) yang naik 11,7 persen, menyumbang 25,8 persen dari total portofolio pembiayaan.
“Kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 53 persen year-on-year mencapai Rp3,6 triliun,” tambahnya.
Dana Murah dan Kualitas Aset
Likuiditas BCA juga terpantau melimpah dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 10,2 persen menjadi Rp1.249 triliun. Pertumbuhan ini didominasi oleh dana murah (CASA) berupa giro dan tabungan yang naik 13,1 persen menjadi Rp1.045 triliun.
Di sisi lain, kualitas aset BCA semakin sehat. Rasio Loan at Risk (LAR) turun ke level 4,8 persen dari tahun sebelumnya 5,3 persen, sementara rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terjaga di level aman 1,7 persen.
BCA juga menyiapkan ‘bantalan’ yang kuat dengan pencadangan NPL sebesar 183,8 persen dan pencadangan LAR sebesar 71,6 persen.










