Sudaryono Pasang Badan: Ungkap Alasan Strategis Prabowo Pertahankan RI di Board of Peace demi Palestina

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono/IG

JAKARTA, Generasi.co — Di tengah pusaran polemik dan desakan publik terkait status keanggotaan Indonesia, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono akhirnya buka suara. Melalui akun Instagram pribadinya, tokoh muda yang dikenal berada di lingkaran inti Presiden Prabowo Subianto ini menegaskan bahwa keputusan mempertahankan posisi RI di Board of Peace (BoP) adalah murni taktik diplomasi tingkat tinggi, bukan bentuk kompromi terhadap ketidakadilan.

Pernyataan Sudaryono ini sekaligus menjawab keraguan yang sempat muncul pasca-ultimatum mundurnya Indonesia jika BoP gagal merealisasikan kemerdekaan Palestina. Menurutnya, memilih bertahan dan bertarung dari dalam sistem adalah langkah yang jauh lebih berani dan terukur.

“Presiden Prabowo mengambil keputusan berani mempertahankan posisi Indonesia di Board of Peace (BoP). Kita menolak menyerah pada kebuntuan,” tulis Sudaryono dalam unggahannya, Senin (9/3/2026).

“Kalau Mundur, Di Mana Lagi Kita Berjuang?”

Dalam narasinya, Wamentan Sudaryono melontarkan pertanyaan retoris yang menggugah nalar publik mengenai efektivitas langkah walk-out dari forum diplomasi global. Ia menilai bahwa meninggalkan meja perundingan justru akan menutup pintu bagi Indonesia untuk membela kepentingan Gaza secara langsung.

“BoP merangkum ikhtiar diplomasi tingkat tinggi demi mewujudkan stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya Gaza. Bila kita terburu-buru mundur, lantas di forum mana lagi kita bisa duduk memperjuangkan nasib saudara-saudara kita di Palestina?” urai Sudaryono.

Sinergi D-8: Memperkuat Posisi Tawar RI di Meja Perundingan

Lebih lanjut, Sudaryono memaparkan bahwa Indonesia tidak berjuang sendirian di dalam BoP. Pemerintah secara cerdas memanfaatkan aliansi D-8 (Developing-8: kelompok 8 negara berkembang mayoritas Muslim) untuk mendongkrak daya tawar (bargaining power) di hadapan negara-negara Barat penginisiasi BoP.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa peperangan berlarut-larut tidak akan pernah membawa solusi akhir yang menguntungkan rakyat sipil.

  • Fokus Diplomasi: Diplomasi di meja perundingan dinilai sebagai jalan keluar yang paling masuk perhitungan dan minim korban jiwa.
  • Misi Damai: Posisi Indonesia di BoP secara eksklusif membawa misi perdamaian yang bermartabat dan terukur, bukan untuk mendukung agresi militer pihak mana pun.

Menutup unggahannya, Sudaryono mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyatukan barisan. “Kita datang membawa misi damai. Mari dukung upaya pemerintah memastikan perdamaian terwujud melalui cara-cara bermartabat dan terukur,” pungkasnya.