Jakarta, Generasi.co — Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum “Mas Godres”, sahabat karib sekaligus kawan seperjuangan Wakil Menteri Pertanian (Wamantan), Sudaryono. Melalui unggahan emosional di akun Instagram pribadinya, Sudaryono membagikan momen saat dirinya duduk bersila merapat bersama keluarga almarhum, mencoba merangkai kembali kepingan kenangan tentang sosok yang ia sebut memiliki “nyala juang tak main-main”.
Kehadiran Sudaryono bukan sekadar kunjungan formal pejabat, melainkan sebuah penghormatan bagi seorang kawan yang pernah berdiri di barisan yang sama dalam peluh perjuangan.
Penyesalan dan Janji yang Belum Terpenuhi
Dalam narasinya, Sudaryono mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Ia mengenang bagaimana almarhum Mas Godres seringkali begitu larut dalam pengabdian dan perjuangan hingga kerap melupakan kepentingan dirinya sendiri.
Satu hal yang menyisakan kegetiran bagi Sudaryono adalah sebuah janji yang belum sempat ia tunaikan hingga maut menjemput sang sahabat.
“Saya ingat betul, ada janji mau sowan mampir ke kediaman beliau. Takdir berkata lain. Kita tidak pernah tahu kapan waktu manusia akan habis terpakai,” tulis Sudaryono dengan nada penuh refleksi.
Saksi Atas Kebaikan dan Semangat yang Tak Padam
Di hadapan keluarga dan para pelayat, Sudaryono memberikan kesaksian bahwa almarhum adalah sosok orang baik yang dedikasinya patut dicontoh. Sambil mengirimkan untaian doa, ia berharap Sang Pencipta melipatgandakan pahala almarhum dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Bagi Sudaryono, kepergian fisik Mas Godres bukanlah akhir dari segalanya. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang ditinggalkan akan tetap hidup dan menjadi bahan bakar semangat bagi kawan-kawan yang masih berjuang di barisan yang sama.
“Kita boleh kehilangan sosoknya hari ini, tapi apinya akan terus menyala pada barisan kita,” tegas Sudaryono menutup pesannya.
Kepergian Mas Godres meninggalkan kesan mendalam bagi lingkungan terdekatnya, mengingatkan banyak orang tentang arti pengabdian yang tulus dan keterbatasan waktu manusia dalam merajut silaturahmi.










