5 Teknologi Unggulan BRIN Disiapkan Demi Lindungi Pantura dari Banjir Rob

Foto: Kepala BRIN Arif Satria dalam Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu, Senin (4/5/2026). (Istimewa)
Foto: Kepala BRIN Arif Satria dalam Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu, Senin (4/5/2026). (Istimewa)

Generasi.co, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi unggulan sebagai solusi konkret untuk melindungi pesisir utara Jawa (Pantura) dari ancaman banjir rob yang kian meningkat.

Hal tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria dalam Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu, Senin (4/5/2026). Ia optimistis, penguasaan teknologi oleh anak bangsa dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan rob di Pantura sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional.

“Ada lima teknologi yang saat ini sudah berkembang dan dikembangkan oleh BRIN,” ujar Arif dalam paparannya.

Kelima teknologi tersebut meliputi tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton yang dirancang sebagai pelindung pantai sekaligus memiliki nilai tambah, seperti penangkap energi gelombang dan jalur transportasi.

Selain itu, Arif melanjutkan, BRIN mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien. Unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah, terakhir pada tahun 2025 dikembangkan di Nusa Penida, setelah sebelumnya dikembangkan di Pacitan, Sanur, Tuban dan Nias. 

“Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana,” jelasnya.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, BRIN juga menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit energi mandiri.

“Kita membangun tanggul sekaligus pada saat yang sama kita memanen energi arus,” ucapnya.

Pendekatan lain yang dikembangkan adalah hybrid eco-engineering. Ia menjelaskan, pendekatan ini merupakan kombinasi rekayasa teknis dan solusi berbasis alam untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus memulihkan ekosistem. 

“Kombinasi ini bisa mereduksi gelombang, menangkap sedimen, dan pemulihan mangrove,” ujarnya.

Arif menegaskan, teknologi yang dikembangkan BRIN siap diimplementasikan dan didukung tingkat komponen dalam negeri yang tinggi.

“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya lebih dari 70 persen,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto meminta rencana induk (master plan) perlindungan Pantai Utara atau Pantura Jawa untuk segera disusun.

Didit mengatakan pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak seperti kementerian/lembaga terkait, universitas dan para tenaga ahli terkait penyusunan rencana induk tersebut. Dalam rapat ini, dilaksanakan juga penandatanganan MoU antara BOPPJ, Kemdiktisaintek, dan BRIN terkait sinergi tugas dan fungsi untuk mendukung pengelolaan Pantai Utara Jawa berbasis pendidikan tinggi, riset, dan inovasi.

“Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kita bicarakan lebih dari 6 bulan, bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” kata Didit.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan Pantura, baik melalui pembangunan infrastruktur yang adaptif maupun langkah mitigasi berbasis lingkungan. 

Ia menjelaskan, kawasan Pantura menghadapi ancaman serius akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut. Menurutnya, dua faktor ini menjadi ancaman nyata yang harus segera ditangani melalui langkah konkret dan terukur.

Terlebih, lanjut AHY, kawasan Pantura Jawa memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, yakni menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Karena itu, perlindungan kawasan pesisir, Giant Sea Wall, menjadi hal mendesak.

Mengingat, terdapat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah pantura Jawa. Sementara itu, sekitar 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir.

“Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua,” ucapnya.