Eddy Soeparno Bidik 1,7 Juta Green Jobs dan Investasi USD 190 Miliar

Eddy Soeparno menegaskan pentingnya perlindungan sosial agar pembangunan ekonomi tidak meninggalkan masyarakat miskin dan rentan, menyusul kasus anak bunuh diri di NTT/MPR

BANDUNG, Generasi.co — Transisi menuju energi terbarukan di Indonesia tidak boleh hanya berhenti pada retorika penyelamatan bumi. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa agenda ini harus ditarik ke arah strategi industrialisasi nasional yang mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru (green jobs) bagi anak muda Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Eddy saat memberikan kuliah umum dalam rangkaian MPR Goes to Campus ke-43 di Sekolah Pascasarjana Ilmu Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Di hadapan ratusan mahasiswa pascasarjana, Eddy memaparkan bahwa Indonesia sedang berdiri di ambang peluang ekonomi raksasa.

“Kita memiliki potensi energi terbarukan ribuan gigawatt dan kekayaan mineral kritis seperti nikel dan tembaga. Pertanyaannya: apakah kita hanya akan menjadi pasar bagi panel surya dan baterai impor? Atau kita berani memproduksinya di dalam negeri?” tantang Eddy Soeparno.

Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

Doktor Ilmu Politik UI ini memaparkan data optimis terkait Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dengan target tambahan kapasitas 69,5 GW—di mana sebagian besar adalah energi bersih—Indonesia diproyeksikan membutuhkan investasi hingga USD 190 miliar (sekitar USD 19 miliar per tahun).

Jika dikelola dengan fokus pada produksi domestik, transisi ini diperkirakan akan:

  • Menciptakan 1,7 Juta Green Jobs: Membuka ruang bagi insinyur, teknisi baterai, hingga tenaga riset inovasi.
  • Mendongkrak PDB: Berkontribusi pada pertumbuhan PDB tahunan sebesar 0,1% hingga 0,7%.
  • Memperkuat Geopolitik: Menjadikan Indonesia sebagai pemimpin Global South dalam ekspor teknologi rendah karbon.

Peta Jalan Industri Hijau Indonesia 2025–2034

Komponen StrategisTarget/PotensiDampak bagi Indonesia
Kapasitas EBT Baru42,6 GigawattKemandirian energi & reduksi emisi
Kapasitas BESS10,3 GigawattStabilitas listrik & hilirisasi nikel/baterai
Total InvestasiUSD 190 MiliarStimulus besar bagi manufaktur domestik
Lapangan Kerja1,7 Juta PosisiPenyerapan tenaga kerja terampil (Green Jobs)

Sinergi Alam dan Teknologi

Eddy juga menyoroti keunggulan Indonesia yang unik, yakni perpaduan antara solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti hutan dan mangrove dengan solusi rekayasa (engineered-based solutions) seperti teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS).

Menurutnya, kekayaan karbon alami Indonesia adalah modal besar untuk membangun ekosistem ekonomi rendah karbon yang terintegrasi. Namun, hal ini membutuhkan dukungan penuh dari kalangan akademisi untuk terus berinovasi.

“Kampus harus menjadi pusat riset dan inkubasi industri hijau. Kita ingin transisi energi ini dinikmati oleh industri dalam negeri dan membuka lapangan kerja hijau bagi rakyat, bukan sekadar menjadi konsumen teknologi asing,” pungkas Waketum PAN tersebut.

Melalui visi ini, transisi energi bukan lagi dianggap sebagai beban biaya, melainkan strategi jitu untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) menuju negara maju yang berdaulat secara energi dan industri.