Kualitas Aset Membaik, BCA Tegaskan Revisi Outlook Moody’s Tak Ganggu Bisnis

Bank BCA/Laman BCA

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) buka suara terkait langkah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Ratings, yang merevisi outlook kredit perseroan menjadi negatif. Manajemen memastikan hal tersebut tidak berdampak pada kinerja penyaluran kredit maupun fundamental keuangan bank.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa indikator keuangan BCA saat ini justru menunjukkan performa yang solid.

“Tidak (berdampak). Jadi bisa lihat bagaimana NPL (Non-Performing Loan) kita sangat terjaga, kemudian bisnis kita juga berjalan dengan sangat baik, bottom line kita juga positif, dan relasi kita juga tetap baik,” ujar Hera di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (11/2).

Kualitas Aset Membaik

Hera memaparkan data kinerja per Desember 2025 sebagai bukti ketahanan BCA. Total penyaluran kredit tercatat tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp993 triliun.

Kualitas kredit pun terjaga dengan rasio kredit macet atau NPL yang terkendali di level 1,7 persen. Selain itu, rasio risiko pinjaman atau Loan at Risk (LAR) membaik signifikan ke angka 4,8 persen, turun dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di 5,3 persen.

“Jadi kami tidak merasakan ada efek apa pun, dan kami akan tetap menjaga itu dalam track yang memang saat ini sudah kami jaga, kami prudence (hati-hati),” jelasnya.

Minta Tak Khawatir Berlebihan

Hera menekankan bahwa seluruh kredit yang disalurkan BCA telah melalui proses prudential banking yang ketat. Oleh karena itu, ia meminta pasar dan masyarakat tidak perlu panik menanggapi perubahan outlook dari Moody’s.

“Kekhawatiran berlebihan menurut saya tidak dibutuhkan dalam hal ini, dan kami tetap akan menjaga bahwa postur Loan Growth kami berada pada proses yang sehat,” tegas Hera.

Sebagai informasi, Moody’s sebelumnya memangkas outlook kredit Indonesia dari Stabil menjadi Negatif karena risiko kredibilitas kebijakan. Langkah ini berdampak pada revisi outlook lima bank besar, yakni Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BCA.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga telah meminta kelima bank tersebut untuk memberikan penjelasan komprehensif kepada Moody’s terkait kondisi fundamental mereka yang sebenarnya.