Generasi.co, Jakarta – Perseteruan antara Denny Sumargo dan Farhat Abbas berujung pada aksi saling lapor ke pihak berwajib. Sebelumnya, pada 7 November 2024, Farhat mengajukan laporan ke Polda Metro Jakarta Selatan terkait dugaan tindakan diskriminasi rasial dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh Denny. Tidak terima dengan laporan tersebut, Denny Sumargo, yang akrab disapa Densu, melaporkan Farhat kembali ke Polda Metro Jaya pada Senin (18/11/2024) dengan tuduhan pengancaman.
Lalu, apa yang memicu perselisihan antara kedua figur publik tersebut hingga berakhir dengan aksi saling lapor?
Permasalahan antara keduanya bermula dari komentar Denny mengenai kasus Agus Salim, korban penyiraman air keras yang mendapat bantuan dari yayasan milik Pratiwi Noviyanthi. Yayasan tersebut menyalurkan donasi sebesar Rp1,5 miliar untuk Agus, namun penggunaan dana tersebut menjadi polemik karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas. Farhat Abbas, yang merupakan pengacara Agus Salim, merasa tersinggung dengan pernyataan Denny yang dianggap menyudutkan kliennya. Namun, Densu menganggap Farhat justru memutarbalikkan fakta karena menyeret namanya. Mantan pebasket profesional tersebut juga sempat menulis komentar “tae” di video unggahan Farhat Abbas, yang kemudian membuat Farhat marah.
Farhat menilai komentar tersebut sudah melampaui batas dan mulai memberikan peringatan kepada Denny. Sebagai upaya menyelesaikan masalah secara baik-baik, Denny kemudian mendatangi kediaman Farhat di Bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, yang potongan videonya beredar di media sosial, Densu mempertanyakan keinginan yang sempat diungkap Farhat untuk menghajar dirinya. “Kau bilang kau mau hajar saya, jadi saya datang nih saya mau lihat kau hajar saya nih, gimana? Karena saya tidak akan balas dan saya juga tidak akan tuntut kau,” ungkap Densu dalam video tersebut.
Usai pertemuan tersebut, Farhat kemudian mengklarifikasi mengenai masalah ini, ia menyebut tidak memiliki masalah personal dengan Denny Sumargo. “Pertama saya ucapkan terima kasih, saya tahu Mas Denny orang baik. Saya dengan Mas Denny tidak ada masalah, hanya dari awal memang niat untuk bermediasi,” ucap Farhat. “Memang pas Mas Denny ke Korea tiba-tiba saya dapat informasi dari wartawan saya dikatain ‘tae’,” lanjutnya.
Namun, permasalahan keduanya ternyata masih berlanjut meski Farhat dan Densu sempat saling besalaman usai pertemuan tersebut. Dalam laporannya ke Polda Metro Jakarta Selatan, Farhat menyampaikan bahwa dugaan ujaran kebencian didasarkan pada ucapan Denny Sumargo ketika menyambangi rumah Farhat Abbas dengan membawa-bawa adat Makassar. Densu dianggap ingin memecah belah etnis yang berada di Makassar, yakni Bugis. Lantaran tak mau ada kekerasan yang terjadi antara dirinya dengan Densu, Farhat berupaya menyelesaikan masalah tersebut lewat jalur hukum.
“Saya menepati pertandingan hari ini bukan pertandingan otot tapi pertandingan otak, bukan salah benar, tapi etika. Saya mau mengatakan masalah siri itu bukan menggunakan tubuh, pistol, atau senjata,” kata Farhat Abbas di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (7/11/2024). “Bukan dengan cara mempermalukan orang mengetok rumah orang dengan cara yang tidak benar. Bersama tim, dengan Doktor Krisna Murti dan tim gabungan pengacara pembela kaum lemah, kami tempuh secara hukum,” lanjutnya.
Sementara itu, Densu dalam laporannya ke Polda Metro Jaya menyampaikan bahwa keputusan melaporkan balik Farhat Abbas diambil setelah berkonsultasi dengan pengacaranya. “Setelah saya dilaporkan, beliau (Mohamad Anwar) datang ke saya, ‘Bang, ini udah nggak beres, boleh nggak kita antisipasi secara hukum? Karena kan yang terakhir abang bilang udah damai. Kok ini diperpanjang?'” tuturnya.
“Saya bilang, ‘Silakan kalau mau’, ya dia minta surat kuasa, saya kasih surat kuasa saya ke mereka untuk diurus secara hukum karena sebagai warga negara saya punya hak,” terang Denny.
Denny juga menyatakan laporan sudah dibuat sekitar dua pekan lalu. “Kami tekankan pengancaman, ya. Sebetulnya kita mau melaporkan sebelum dia melaporkan. Tapi di hari yang sama kita melaporkan,” ujar bapak satu anak itu.
“Memang saya nggak mau perpanjang, kan, ini bentuk antisipasi saya aja,” ucap Denny Sumargo.
Denny kemudian berkilah bahwa ucapan “tae” yang dilontarkannya tak selalu punya konotasi negatif dan memperuncing perseteruan. Menurutnya, perkataan tersebut bisa pula bernada positif tergantung sudut pandang si penerima.
Yang jelas, kata dia, ujaran tersebut muncul karena dirinya tidak setuju dengan tindakan Farhat yang melibatkan Denny di tengah kasus donasi Rp1,5 miliar yang melibatkan Agus Salim dan Pratiwi Noviyanthi (Novi).










