Ibas: Jenderal Try Sutrisno Adalah Teladan Nyata Penjaga Konstitusi

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)/Ist.

Jakarta, Generasi.co — Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, yang berpulang pada usia 90 tahun, Senin (2/3).

Ibas mengenang almarhum bukan sekadar sebagai pemimpin nasional, melainkan sosok patriot yang konsisten menjaga nilai-nilai konstitusi demi keadilan rakyat.

“Beliau selalu memperjuangkan konstitusi negeri demi keadilan dan kemakmuran rakyat luas. Dedikasi tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan demokrasi kita,” ujar Ibas dalam keterangan resminya.

Warisan Pemikiran untuk Generasi Muda

Bagi Ibas, kepergian Try Sutrisno meninggalkan tanggung jawab moral bagi generasi penerus. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan ketulusan almarhum harus terus dihidupkan dalam membangun Indonesia ke depan.

“Sebagai generasi penerus, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan pemikiran dan pengabdian beliau. Beliau adalah pejuang sejati, patriot, dan nasionalis,” lanjut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI tersebut.

Dihadiri Tokoh Bangsa di TMP Kalibata

Ibas turut hadir dalam upacara pemakaman kenegaraan yang berlangsung khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Upacara tersebut menjadi momen berkumpulnya para tokoh bangsa untuk memberikan penghormatan terakhir, di antaranya:

  • Presiden RI Prabowo Subianto (sebagai Inspektur Upacara).
  • Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
  • Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
  • Para mantan Wakil Presiden: Jusuf Kalla dan Boediono.

Sekilas Rekam Jejak Sang Prajurit

Try Sutrisno memiliki perjalanan karier militer dan politik yang sangat panjang dan cemerlang:

  • Lulusan: Akademi Teknik Angkatan Darat (1959).
  • Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD): 1986–1988.
  • Panglima ABRI: 1988–1993.
  • Wakil Presiden RI: 1993–1998.

“Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, namun semangat juangnya akan terus hidup dalam setiap langkah pembangunan bangsa,” pungkas Ibas.