Literasi digital dan literasi Artificial Intelligence (AI) bagi penyandang disabilitas bukan sekadar program tambahan dan kegiatan sosial biasa, tetapi bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi.
“Pembukaan UUD 1945 memberi mandat yang sangat jelas, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang berarti bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sambutan pada pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft di kantor Komite Nasional Disabilitas, Cawang Kencana, Jakarta Timur, Senin (25/5).
AI Tidak Inklusif Berpotensi Jadi Ancaman terhadap Hak Dasar Warga Negara
Lestari mengungkapkan, di masa lalu, diskriminasi tampak dalam bangunan tanpa ramp. Hari ini diskriminasi dapat muncul dalam aplikasi yang tidak dapat diakses setiap orang.
Rerie, sapaan akrab Lestari, menilai AI yang tidak inklusif bukan hanya kurang lengkap, tetapi berpotensi menjadi ancaman terhadap hak dasar warga negara.
Rerie, yang juga Anggota Komisi X DPR RI, berpendapat bahwa transformasi digital harus berjalan selaras dengan transformasi sosial agar tidak menciptakan ketimpangan baru.
Dalam konteks ini, ujar Rerie, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila menjadi penting untuk mengingatkan bahwa teknologi juga harus menghormati martabat manusia.
Penyandang Disabilitas Bukan Objek, Melainkan Perancang dan Penguji Aksesibilitas AI
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat, isu disabilitas terlalu lama ditempatkan dalam bingkai belas kasihan.
“Paradigma itu harus ditinggalkan. Penyandang disabilitas bukan objek kebaikan, tetapi adalah subjek hak,” ujar Rerie.
Dalam konteks AI, tegas dia, penyandang disabilitas tidak cukup hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga harus mampu menjadi perancang teknologi dan penguji aksesibilitas.
Menurut Rerie, AI harus dirancang dengan kemudahan aksesibilitas sejak awal. Aksesibilitas harus menjadi prinsip dasar desain teknologi.
“Jangan biarkan siapa pun mendefinisikan masa depan tanpa kehadiran Anda. Jangan biarkan teknologi dibangun tanpa suara Anda. Karena masa depan Indonesia harus dibangun bersama seluruh warga bangsa,” pungkas Rerie, di hadapan para penyandang disabilitas peserta pelatihan AI program EQUAL.










