Tekanan Darah Tinggi pada Perempuan Sering Tak Terlihat, Tingkatkan Risiko Serangan Jantung hingga Demensia

Ilustrasi Pengambilan Sample Darah/Pexels

Tekanan darah tinggi pada perempuan kerap muncul secara diam-diam, bahkan dalam fase-fase kehidupan yang tidak terduga seperti kehamilan atau setelah menopause. Kondisi ini dapat berjalan tanpa gejala, namun perlahan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, hingga demensia apabila tidak terdeteksi dan tidak ditangani.

Perbedaan Pola Hipertensi pada Perempuan

Hipertensi terjadi ketika tekanan dalam pembuluh darah terus-menerus berada di atas batas normal, memaksa jantung bekerja lebih keras dan menyebabkan kerusakan pada dinding arteri serta organ seperti jantung, otak, ginjal, dan mata.

Mayo Clinic mencatat bahwa sebelum usia 64 tahun, laki-laki lebih sering mengalami tekanan darah tinggi. Namun setelah 65 tahun, perempuan justru menjadi kelompok yang lebih rentan. Faktor hormonal—terutama perubahan pascamenopause—dan riwayat reproduksi membuat pola hipertensi pada perempuan berbeda dari laki-laki.

Selain itu, tekanan darah tinggi dapat meningkat selama kehamilan atau muncul sebagai hipertensi kehamilan. Kondisi ini menempatkan perempuan pada risiko komplikasi serius dan membutuhkan penanganan segera.

Gejala yang Jarang Muncul

Mayoritas penderita hipertensi tidak menunjukkan gejala sama sekali, bahkan ketika tekanan darah sudah berada pada tingkat yang membahayakan. Karena sifatnya yang tanpa gejala, hipertensi sering disebut “silent killer”.

Gejala baru cenderung muncul ketika tekanan darah naik drastis. Mayo Clinic menyebut beberapa tanda seperti sakit kepala, sesak napas, atau mimisan—namun menekankan bahwa kondisi tersebut biasanya hanya terjadi pada hipertensi berat atau darurat medis.

Cleveland Clinic juga mengingatkan bahwa nyeri dada, sesak napas, atau perubahan neurologis dapat menjadi tanda krisis hipertensi. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera, terutama jika angka tekanan darah mencapai 180/120 mm Hg atau lebih.

Faktor Risiko Khusus Perempuan

Secara umum, faktor risiko hipertensi mencakup riwayat keluarga, usia, obesitas, konsumsi garam tinggi, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, diabetes, penyakit ginjal, hingga sleep apnea. Stres kronis dan rendahnya asupan kalium juga berperan.

Namun pada perempuan, terdapat faktor tambahan yang perlu diwaspadai:

  • Perubahan hormon dan usia: Risiko melonjak setelah menopause akibat perubahan hormon, peningkatan berat badan, dan kekakuan pembuluh darah.
  • Kehamilan: Tekanan darah dapat naik selama kehamilan atau memburuk pada kondisi yang sudah ada sebelumnya. Bacaan 160/110 mm Hg disertai gejala adalah tanda bahaya.
  • Obat-obatan: Beberapa jenis pil kontrasepsi serta obat tertentu dapat memicu hipertensi sekunder yang muncul mendadak dan cenderung lebih tinggi dari hipertensi biasa.

Aspek-aspek ini sering tidak dikaitkan langsung dengan tekanan darah sehingga membuat banyak perempuan tidak menyadari risiko yang mereka hadapi.

Risiko Jangka Panjang Lebih Besar

Meski definisi hipertensi sama untuk laki-laki dan perempuan (130/80 mm Hg atau lebih), dampak jangka panjangnya dapat berbeda. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko:

  • Serangan jantung dan stroke
  • Gagal jantung
  • Kerusakan ginjal
  • Gangguan penglihatan akibat kerusakan pembuluh darah mata
  • Gangguan kognisi dan demensia vaskular

Karena perempuan umumnya hidup lebih lama, mereka berpotensi terpapar hipertensi dalam jangka waktu lebih panjang bila tidak terdeksi sejak dini.

Apa yang Perempuan Harus Lakukan

Kunci utama adalah mengetahui angka tekanan darah secara rutin. Mayo Clinic merekomendasikan pemeriksaan minimal setiap dua tahun mulai usia 18 tahun, dan setiap tahun sejak usia 40 tahun atau lebih muda jika terdapat faktor risiko. Pemeriksaan lebih sering diperlukan bila sudah memiliki hipertensi.

Pencegahan dan pengendalian dilakukan melalui pola hidup sehat seperti mengurangi asupan garam, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menghindari rokok, membatasi alkohol, dan mengelola stres.

Jika perubahan gaya hidup tidak cukup membantu, dokter dapat meresepkan obat sesuai kondisi, seperti diuretik, ACE inhibitor, ARB, beta-blocker, atau calcium channel blocker.

Bagi perempuan dengan faktor risiko khusus—termasuk riwayat hipertensi saat hamil, menopause dini, obesitas, diabetes, atau riwayat keluarga penyakit jantung—pesannya jelas: jangan menunggu gejala muncul. Tekanan darah perlu dipantau secara berkala dan dikendalikan bersama tenaga medis agar terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari.