PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkokoh posisinya sebagai pionir green banking di tanah air. Sepanjang tahun 2025, bank pelat merah ini mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) mencapai Rp197 triliun.
Wakil Direktur Utama BNI, Alexandra Askandar, mengungkapkan bahwa nilai tersebut setara dengan 22 persen dari total kredit yang disalurkan perseroan.
Angka ini menjadi bukti konkret transformasi BNI dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam lini bisnis intinya.
“Capaian ini mencerminkan komitmen BNI dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” ujar Alexandra dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/2).
Fokus Sektor Strategis
Dana jumbo tersebut disalurkan ke berbagai sektor krusial, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), proyek energi baru terbarukan (EBT), pengelolaan sumber daya alam, hingga manajemen air dan limbah.
Untuk menopang pembiayaan ini, BNI juga aktif menerbitkan instrumen keuangan hijau. Pada 2025, perseroan sukses menerbitkan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun dengan peringkat idAAA. Langkah ini melengkapi penerbitan Green Bond sebesar Rp5 triliun yang telah dilakukan pada 2022.
Panduan Sawit Pertama di RI
Tak hanya sekadar menyalurkan kredit, BNI juga mengambil peran sebagai penasihat (advisor) bagi nasabahnya agar beralih ke praktik bisnis yang ramah lingkungan.
Alexandra menyebutkan, BNI telah meluncurkan ESG Advisory Playbook khusus untuk subsektor kelapa sawit. Inisiatif ini menjadikan BNI sebagai bank pertama di Indonesia yang memiliki panduan teknis tersebut.
Selain sawit, BNI juga memberikan pendampingan teknis bagi debitur di sektor konstruksi, real estate, transportasi, hingga Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU) agar sesuai dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Kantor Bebas Sampah
Komitmen keberlanjutan juga diterapkan dalam operasional internal perusahaan. Melalui program Zero Waste to Landfill (ZWTL), BNI menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) di lima kantor pusatnya.
Hasilnya, sepanjang 2025, BNI berhasil mendaur ulang 611,5 ton limbah padat. Jumlah ini setara dengan 100 persen limbah yang dihasilkan, sehingga tidak ada sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya BNI menekan dampak lingkungan dari aktivitas operasional,” tegas Alexandra.










