JAKARTA, Generasi.co — Aksi teror mengerikan kembali menghantam wajah demokrasi dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3/2026) malam.
Serangan keji ini terjadi sesaat setelah Andrie merampungkan diskusi kritis mengenai militer di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Peristiwa ini memicu kemarahan publik dalam negeri hingga mendapat kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengutuk keras serangan ini dan menyebutnya sebagai upaya pembungkaman yang zalim di tengah bulan suci Ramadan.
“Ini bukan lagi alarm, ini marabahaya. Bulan suci ini dinodai dengan sebuah tindakan yang menurut kami di KontraS adalah sebuah kondisi yang sangat brutal, buruk, zalim,” tegas Dimas dalam konferensi pers, Jumat (13/3/2026).
Kronologi Malam Kelabu: Dari Podcast hingga Teror di Salemba
Berdasarkan investigasi awal yang dihimpun oleh KontraS, serangan ini diduga kuat telah direncanakan dengan matang. Berikut adalah urutan peristiwanya:
- Teror Pendahuluan (9–12 Maret): Beberapa hari sebelum kejadian, Andrie kerap menerima panggilan telepon dari nomor-nomor tak dikenal dengan modus pinjaman online, m-banking, hingga spam.
- Diskusi Kritis (Kamis Malam): Andrie hadir di kantor YLBHI, Menteng, untuk melakukan perekaman podcast (siniar) bersama staf YLBHI dengan mengangkat tema sensitif: “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”. Siniar selesai pukul 20.00 WIB, dan ia meninggalkan lokasi sekitar pukul 23.00 WIB.
- Detik-Detik Penyerangan (23.37 WIB): Saat Andrie melintas di Jalan Salemba I menggunakan motor Yamaha Aerox kuning, ia berpapasan dengan dua orang berboncengan motor matik (diduga Honda Beat/Vario hitam) yang melaju melawan arah.
- Eksekusi: Saat berpapasan, pelaku langsung menyiramkan cairan kimia berbahaya ke tubuh Andrie. Korban berteriak kesakitan, “Air keras! Air keras! Panas!” hingga terjatuh dari motornya, sementara pelaku tancap gas melarikan diri ke arah Jalan Salemba Raya.
Bukan Motif Perampokan Dimas memastikan bahwa tidak ada satu pun barang berharga milik korban yang hilang. Di lokasi kejadian (TKP), pelaku menjatuhkan sebuah gelas berbahan stainless steel yang digunakan untuk menampung air keras tersebut. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa penyerangan murni bermotif teror.
Kondisi Kritis: Luka Bakar 24 Persen dan Ancaman Kebutaan
Baju yang dikenakan Andrie sesaat setelah disiram dilaporkan meleleh. Korban langsung dilarikan oleh rekan-rekannya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan tiba menjelang tengah malam.
Berdasarkan diagnosis tim medis RSCM, Andrie menderita luka bakar 24 persen. Cairan mematikan itu menghancurkan jaringan kulit di area wajah, mata, dada, dan kedua tangannya.
Saat ini, Andrie harus ditangani secara intensif oleh enam dokter spesialis (mata, THT, saraf, tulang, toraks, dan kulit). Ia juga dijadwalkan menjalani operasi transplantasi membran amnion guna menyelamatkan jaringan matanya yang rusak parah.
PBB Turun Tangan: Impunitas Tidak Dapat Diterima!
Kabar kelam dari Jakarta ini langsung sampai ke telinga komunitas internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Pembela Hak Asasi Manusia, Mary Lawlor, menyuarakan kecaman kerasnya melalui platform X (sebelumnya Twitter).
Ia mendesak otoritas keamanan Indonesia untuk tidak tinggal diam dan segera memburu otak di balik serangan biadab ini.
“Saya menyerukan kepada pihak berwenang Indonesia untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap serangan mengerikan ini. Impunitas (kebebasan dari hukuman) atas kekerasan terhadap pembela HAM tidak dapat diterima,” tulis Mary Lawlor, Jumat (13/3/2026).
Serangan terhadap Andrie Yunus bukan sekadar tragedi individu, melainkan ancaman langsung terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia. Aparat kepolisian kini dituntut untuk bergerak cepat, mengungkap motif, dan menangkap para pelaku beserta aktor intelektual di baliknya.










