Anggota DPR RI Atalia Praratya resmi menggugat cerai suaminya, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Gugatan cerai tersebut telah terdaftar di Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung, dengan agenda sidang perdana dijadwalkan berlangsung pada Rabu (17/12).
Panitera PA Kota Bandung Dede Supriadi membenarkan adanya pendaftaran perkara perceraian tersebut yang dilakukan pada pekan lalu.
“Iya betul, didaftarkannya antara Kamis atau Jumat kemarin,” ujar Dede saat dikonfirmasi, Senin (15/12).
Namun demikian, pihak pengadilan belum mengungkapkan detail materi gugatan. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Humas PA Kota Bandung sesuai tahapan persidangan.
Gugatan cerai ini mencuat di tengah sorotan publik terhadap Ridwan Kamil, yang sebelumnya dikaitkan dengan tudingan hubungan pribadi dengan selebgram Lisa Mariana. Klaim tersebut sempat dilaporkan ke kepolisian. Namun, hasil tes DNA yang dilakukan Bareskrim Polri menyatakan bahwa DNA anak yang dimaksud tidak identik dengan Ridwan Kamil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak terkait gugatan cerai tersebut.
Di tengah isu yang berkembang, publik juga menyoroti curahan hati Atalia Praratya dalam sebuah kajian, yang belakangan beredar luas di media sosial dan dianggap mencerminkan kondisi batinnya.
Dalam kajian tersebut, Atalia mengaku tengah menghadapi ujian hidup yang berat dan menegaskan bahwa dirinya hanya bisa bersandar kepada Tuhan.
“Tidak ada yang bisa kita pegang, kecuali Allah,” ujar Atalia Praratya, seperti dikutip dari unggahan Instagram, Kamis (13/11).
Ibu dari mendiang Emmeril Kahn Mumtadz (Eril) itu juga mengungkapkan proses berdamai dengan keadaan yang sedang dihadapinya.
“Maka saya berdamai itu dengan cara saya melepaskan diri saya, dari beban saya, perlahan,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Atalia kemudian menyampaikan refleksi tentang makna kehidupan yang ia rasakan saat ini.
“Sesungguhnya kehidupan itu bukan soal cepat atau lambatnya kita mencapai sesuatu, tetapi tentang bagaimana kita mampu bertahan,” tuturnya.
Dalam unggahan tersebut, Atalia turut membagikan suasana kajian yang dihadirinya. Sejumlah peserta tampak terharu, bahkan menangis, mendengar pesan-pesan yang disampaikan para pembicara.
Sebagai keterangan unggahan, Atalia menuliskan refleksi tentang makna menghadapi luka dan ujian hidup.
“Kita belajar bahwa memeluk luka bukanlah berarti menyerah. Tetapi mengakuinya, memaknainya, mencari pertolongan, lalu… menyerahkannya pada Yang Maha Menyembuhkan.”
Ia melanjutkan, “Sebab sesakit apapun beban yang kita bawa, hati akan selalu menemukan tenangnya, saat kembali pada-Nya.”
Atalia juga menyampaikan pesan solidaritas kepada perempuan yang tengah menghadapi ujian hidup agar saling menguatkan.
“Saudariku, disaat terluka sedalam apapun, janganlah merasa sendirian karena sejatinya setiap insan pasti pernah terluka.”
“Saling mendengar, memahami, dan menopang, akan membuat luka menjadi lebih ringan. Dalam setiap kebersamaan, kita bisa menemukan keberanian untuk bangkit.”
Menutup pesannya, Atalia menegaskan pentingnya keteguhan dan harapan. “Tetaplah tegar, tetaplah tangguh, dan tetaplah bersinar dalam lindungan dan kasih sayang Ilahi.”










