Negosiasi Tarif Ekspor 19 Persen, Seskab Teddy Sebut Pertemuan Prabowo dan Trump Sedang Dibahas

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangannya kepada awak media di Kabupaten Tapanuli Selatan pada Rabu, 31 Desember 2025. Foto: BPMI Setpres/Rusman

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memastikan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tengah mematangkan rencana pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pertemuan tingkat tinggi ini dirancang khusus untuk membahas finalisasi kesepakatan tarif dagang antara kedua negara.

Teddy menyebut, saat ini detail pertemuan sedang dalam tahap pembahasan teknis oleh pihak Kemlu. Ia memastikan komunikasi antara kedua belah pihak sudah terjalin intensif.

“Sedang dibahas oleh Kementerian Luar Negeri. Nanti Pak Menlu yang akan menyampaikan. Tentunya sudah ada perbincangan dan beberapa kali bertemu, itu nanti akan diputuskan,” kata Teddy di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2).

Negosiasi Tarif 19 Persen

Proses perundingan dagang antara Indonesia dan AS diketahui memakan waktu yang cukup panjang. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat menargetkan dokumen kesepakatan dapat ditandatangani secara resmi oleh kedua kepala negara pada akhir Januari 2026.

Airlangga menjelaskan bahwa produk ekspor Indonesia ke AS akan dikenakan tarif sebesar 19 persen. Angka ini merupakan hasil negosiasi yang lebih rendah (diskon) dibandingkan pengumuman awal Trump pada Juli 2025 yang mematok tarif sebesar 32 persen.

“Setelah seluruh proses teknis diselesaikan, maka diharapkan sebelum akhir Januari (2026) akan disiapkan dokumen untuk dapat ditandatangani secara resmi oleh Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Amerika Serikat Pak Donald Trump,” ujar Airlangga pada akhir Desember lalu.

Target Rampung Pertengahan Februari

Meskipun target awal Januari telah terlewati, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan tidak ada kendala substansial dalam proses negosiasi tersebut. Keterlambatan terjadi karena kedua negara masih mencari titik temu yang paling menguntungkan.

Prasetyo kini menargetkan negosiasi tarif dagang ini dapat rampung sepenuhnya pada pertengahan Februari 2026.

“Insyaallah enggak (ada masalah). Secara substansi insyaallah enggak ada masalah dan mohon doanya supaya banyak membawa kepentingan bangsa dan negara kita,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (28/1).

Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus berupaya keras melakukan negosiasi dengan AS demi mengamankan kepentingan ekonomi nasional.