JAKARTA, Generasi.co — Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan poros Amerika Serikat dan Israel memaksa Pemerintah Indonesia bergerak cepat. Melalui skema evakuasi bertahap, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI berhasil memulangkan 32 Warga Negara Indonesia (WNI) dari zona merah di Iran agar kembali ke Tanah Air dengan selamat.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono secara langsung menyambut kedatangan para WNI di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Ia menekankan bahwa keselamatan warga negara adalah prioritas mutlak di tengah situasi geopolitik yang kian tak menentu.
“Kami mengucapkan selamat datang kembali di Tanah Air. Selamat berkumpul kembali bersama keluarga di bulan yang suci ini,” sambut Sugiono dengan hangat kepada para WNI yang tiba pada Selasa (10/3/2026).
Skenario Evakuasi: Menembus Baku Menuju Jakarta
Proses repatriasi ini tidaklah mudah dan membutuhkan perhitungan logistik serta medis yang matang. Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa tim tidak bisa serta-merta menerbangkan WNI langsung dari Teheran akibat ruang udara yang berisiko.
Rute pelarian yang dipilih adalah jalur darat. Para WNI harus menempuh perjalanan darat selama 10 jam dari Teheran menuju Baku, Azerbaijan, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta.
“Jadi, enggak bisa hari ini mau evakuasi langsung detik itu juga,” jelas Sugiono menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam operasi ini.
Rincian Gelombang Pemulangan 32 WNI:
- Gelombang 1 (Selasa, 10 Maret 2026): Membawa 22 WNI yang tiba pada pukul 18.00 WIB.
- Gelombang 2 (Rabu, 11 Maret 2026): Menyusul 10 WNI yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta keesokan harinya.
Profil ke-32 WNI yang dievakuasi tersebut sangat beragam, terdiri atas: 14 pelajar/mahasiswa, 10 pekerja ekspatriat, 5 turis, 2 Pekerja Migran Indonesia (PMI), dan 1 pengajar/jurnalis. Setibanya di bandara, pemerintah daerah masing-masing langsung mengambil alih untuk memfasilitasi perjalanan mereka pulang ke kampung halaman.
Nasib 297 WNI Lainnya di Iran: Evakuasi Bersifat Sukarela
Berdasarkan basis data Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran, total populasi WNI di Iran tercatat sebanyak 329 orang. Artinya, masih ada sekitar 297 WNI yang memilih bertahan di negara tersebut.
Mayoritas dari mereka yang bertahan adalah mahasiswa yang terkonsentrasi di Kota Qom, disusul oleh sejumlah pekerja migran. Menlu Sugiono menegaskan bahwa skema evakuasi bersifat sukarela (opsional). KBRI Teheran terus membuka pintu dan merancang langkah kontinjensi (contingency plan) jika sewaktu-waktu sisa WNI tersebut meminta untuk dievakuasi.
Travel Warning: Tunda Perjalanan ke Timur Tengah
Menyikapi eskalasi militer yang berpotensi meluas, Kemlu RI secara resmi mengeluarkan imbauan tegas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Jika ingin melakukan perjalanan ke wilayah Timur Tengah, perhatikan kembali status situasi yang ada. Jika dianggap tidak mendesak, saya kira sebaiknya dibatasi sampai keadaan benar-benar memungkinkan,” tegas Sugiono. Pemerintah akan terus memantau dinamika keamanan regional selama 24 jam penuh untuk menentukan langkah perlindungan lanjutan.










