TEHERAN, Generasi.co — Di tengah berkecamuknya perang terbuka di Timur Tengah, sebuah manuver tingkat tinggi terjadi di belakang layar. Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan telah mengevakuasi secara rahasia Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, ke Moskow untuk menjalani perawatan medis darurat.
Langkah evakuasi darurat ini menyoroti seberapa parah krisis kepemimpinan dan keamanan di internal Iran pasca-serangan mematikan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir Februari lalu.
Menurut laporan media asal Kuwait, Al Jarida, pada Minggu (15/3/2026), proses pemindahan ini murni merupakan inisiatif langsung dari pemimpin Kremlin tersebut.
“Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri mengusulkan perawatan Mojtaba di Rusia selama berbincang dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (12/3/2026) lalu. Para pejabat Iran mempertimbangkan dengan saksama usulan tersebut, dan akhirnya setuju,” ungkap seorang sumber senior Iran yang menolak disebutkan namanya.
Konteks Geopolitik: Buntut Tragedi 28 Februari 2026
Untuk memahami mengapa Mojtaba harus dievakuasi hingga ke Rusia, kita harus melihat kembali ke insiden berdarah pada 28 Februari 2026.
Pada hari itu, militer AS dan Israel melancarkan serangan presisi yang menghancurkan jantung pertahanan Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, beserta istri Mojtaba dan sejumlah kerabat dekatnya.
Mojtaba yang langsung dinobatkan sebagai penerus sang ayah, selamat dari maut, namun dalam kondisi kritis. Ia tertimpa reruntuhan yang mengakibatkan cedera parah di sekujur tubuh bagian kiri, patah tulang kaki, hingga luka robek serius di wajah.
Di tengah agresi AS-Israel yang terus berlanjut dan pernyataan terbuka Israel yang kini menjadikan Mojtaba sebagai target utama (high-value target), fasilitas medis di Iran dianggap tidak lagi aman untuk merawat sang pemimpin.
Diterbangkan dengan Pesawat Militer ke Istana Rusia
Merespons tawaran Putin, pada Kamis (12/3/2026) malam, Mojtaba diam-diam diterbangkan meninggalkan Teheran menggunakan pesawat militer khusus milik Rusia dengan pengawalan ketat sejumlah dokter ahli Iran.
Setibanya di Moskow, Mojtaba dilaporkan langsung menjalani operasi bedah yang diklaim ‘berhasil’. Saat ini, ia dirawat di sebuah rumah sakit swasta eksklusif yang berlokasi di dalam kompleks salah satu istana kepresidenan Rusia guna menjamin keamanan absolut.
Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, pada 12 Maret lalu semakin memperkuat spekulasi mengenai betapa kritisnya kondisi Mojtaba. Trump secara blak-blakan menyebut Mojtaba telah “rusak” dan bahkan meragukan apakah penerus rezim Mullah tersebut masih bernapas pasca-serangan brutal AS. Intelijen Israel di Yerusalem juga meyakini bahwa cedera Mojtaba jauh melampaui apa yang diakui oleh Teheran.
Skandal Internal: Siapa yang Menulis Pidato Mojtaba?
Di tengah absennya sang pemimpin secara fisik, kepanikan politik mulai melanda faksi-faksi di Teheran. Al Jarida mengungkap adanya kecurigaan besar dari kubu reformis Iran mengenai pidato perdana Mojtaba yang dirilis usai ia menggantikan mendiang ayahnya.
Absennya bukti visual (video) maupun audio dari pidato tersebut memicu rumor liar. Sumber internal mencurigai bahwa Mojtaba sebenarnya dalam kondisi tidak sadar atau tidak mampu berkomunikasi, dan bahkan tidak mengetahui adanya rilis pidato tersebut.
Banyak pihak meyakini bahwa teks pidato itu sebenarnya ditulis dan didikte oleh Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, lantaran gaya bahasa dan diksinya sangat identik dengan karakteristik Larijani, bukan Mojtaba.
Keberadaan Mojtaba di Rusia kini menjadi kartu truf geopolitik baru bagi Vladimir Putin, sekaligus ujian terberat bagi stabilitas rezim Iran yang tengah menghadapi gempuran dari luar dan krisis legitimasi di dalam negeri.










