Dunia Berkecamuk! Wamentan Sudaryono Beberkan Strategi ‘Pertahanan Pulau’ Prabowo: Si Vis Pacem, Para Bellum

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono/IG

JAKARTA, Generasi.co — Alarm bahaya krisis global tengah berdering kencang. Dengan meletusnya konflik bersenjata di berbagai benua, ancaman terputusnya rantai pasokan kebutuhan pokok dunia kini berada di depan mata. Merespons situasi genting ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto rupanya telah menyiapkan skenario mitigasi level tertinggi.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, membeberkan bahwa Kepala Negara membaca dinamika global saat ini murni menggunakan kacamata pertahanan nasional.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sudaryono menegaskan bahwa Indonesia menargetkan kemandirian absolut di tiga sektor vital: Pangan, Energi, dan Air Bersih.

“Kita tidak boleh terus bersandar pada impor. Negara pengekspor pasokan makanan seperti Thailand atau Kamboja bisa saja menghentikan distribusi saat mereka sendiri terdesak krisis,” tulis Sudaryono, mengingatkan bahaya fatal dari ketergantungan impor.

Strategi ‘Pertahanan Pulau’: Desentralisasi Ekstrem

Untuk menjawab ancaman tersebut, pemerintah merancang sebuah konsep pertahanan yang disebut sebagai Pertahanan Pulau. Ini adalah strategi di mana setiap daratan besar di Nusantara diwajibkan untuk bisa bertahan dan menghidupi wilayahnya sendiri.

Wamentan memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai implementasi konsep ini:

  • Kemandirian Logistik Mandiri: Pulau-pulau besar seperti Papua tidak boleh lagi hanya menanti kiriman logistik yang harus membelah lautan. Warga setempat didorong untuk mampu menanam dan memanen kebutuhan pangannya sendiri.
  • Pemerataan Fasilitas Vital: Tidak hanya soal makanan, infrastruktur pertahanan seperti pabrik amunisi, barak militer, hingga lumbung gizi nasional wajib didirikan secara merata di tiap pulau.
  • Skenario Terburuk: Tujuan utama dari strategi ini adalah memutus rantai ketergantungan antar-pulau, sehingga kelangsungan hidup rakyat dan aparat negara tetap terjamin andai blokade atau skenario terburuk krisis dunia benar-benar menghantam Indonesia.

Panggilan untuk Mahasiswa Undip

Sudaryono menyadari bahwa fakta dan rancangan pertahanan ini mungkin terdengar agak ekstrem di telinga masyarakat awam. Oleh karena itu, ia secara khusus memanggil kelompok intelektual kampus untuk turun tangan.

“Pemikiran tajam Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) sangat dibutuhkan guna mengawal visi besar pemerintah merawat kedaulatan Republik Indonesia,” tegasnya.

Menutup pesannya yang menggugah, politikus muda ini mengutip sebuah adagium militer Latin legendaris yang menjadi filosofi dasar kedaulatan sebuah negara.

“Si vis pacem, para bellum. Bila mendambakan perdamaian, bersiaplah menghadapi perang. Kemandirian negara bermula saat pasokan makanan bisa kita produksi sepenuhnya,” pungkas Sudaryono.