Kisah Wamentan Sudaryono Kuliah di Jepang: Diusir Dosen karena “Tamak” Ilmu, Sentil Pemuda Setop Rebahan

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/IG

JAKARTA, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membagikan kisah masa lalunya yang unik sekaligus inspiratif saat menempuh studi di Jepang. Jika mayoritas mahasiswa diusir dari ruang kuliah karena tertidur atau membuat keonaran, Sudaryono justru dipaksa keluar kelas oleh sang dosen karena dianggap terlalu berambisi mengambil jam belajar.

Sadar akan latar belakangnya yang hanya seorang anak petani, Sudaryono mengaku sengaja “membabat habis” mata kuliah yang ada demi menyerap ilmu sebanyak-mungkin.

Babat 172 SKS hingga “Diusir” Profesor

Sudaryono menceritakan bahwa ambisinya saat kuliah sempat membuat pihak kampus heran. Di saat standar kelulusan universitas di Jepang hanya mewajibkan 151 Satuan Kredit Semester (SKS), ia justru mengambil hingga 172 SKS.

Tindakan nekat inilah yang membuat dosennya turun tangan dan memintanya keluar dari ruang kelas untuk mengurangi beban belajar yang terlalu ekstrem.

“Dosen menyuruhku keluar kelas sebab aku mengambil jam belajar terlalu banyak. Batas kelulusan kampus 151 SKS, aku babat sampai 172 SKS. Saya memang tamak ilmu sebab sadar diri. Lahir sebagai anak petani membuat paham posisi,” ungkap Sudaryono.

Menjadikan Rasa Takut Sebagai Modal Bertahan Hidup

Bagi pria yang akrab disapa Mas Dar ini, statusnya sebagai anak petani di kampung halaman tidak menjadikannya rendah diri, melainkan memicu insting bertahan hidup yang kuat.

Di saat banyak orang menganggap rasa takut sebagai kelemahan psikologis, Sudaryono justru membalikkan stigma tersebut. Bagi dia, rasa takut adalah bahan bakar utama untuk terus berlari mengejar kesuksesan.

Ada tiga ketakutan terbesar yang membayangi Sudaryono selama menempuh studi di luar negeri:

  • Takut Akademis: Takut jika ijazah yang diraihnya di Jepang kelak tidak diakui saat pulang ke tanah air.
  • Takut Finansial: Takut terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan gagal mengubah nasib keluarga.
  • Takut Moral: Takut mengecewakan harapan besar orang tuanya yang berada di kampung halaman.

“Bagiku, emosi (takut) itu modal utama bertahan hidup,” tegasnya.

Sentilan Keras untuk Generasi Muda: Masa Depan Bukan Paket Kurir!

Menutup kilas balik perjalanannya, Wamentan Sudaryono memberikan pesan menohok bagi generasi muda Indonesia saat ini yang sering terjebak dalam budaya malas atau flexing tanpa kerja keras.

Ia meminta para pemuda untuk segera bangkit, mengubah pola pikir, dan berhenti membuang-buang waktu produktif.

“Sudahi rebahanmu, masa depan tidak diantar kurir ke depan pintu rumah,” sentil Sudaryono tajam.