BGN Siapkan Aplikasi Penilaian Layanan Dapur MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono/BGN

Generasi.co, JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta sekolah menolak makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima tanpa label waktu konsumsi pada setiap ompreng.

Sudaryono mengatakan label tersebut harus mencantumkan batas waktu makanan dapat dikonsumsi secara jelas. Menurut dia, keterangan seperti “1-2 jam setelah diterima” tidak cukup karena tidak menunjukkan batas waktu yang pasti.

“Manakala makan itu diterima oleh sekolah tidak ada labelnya di setiap omprengnya, itu saya minta untuk tidak dibagikan, ditolak,” kata Sudaryono.

Dia meminta kepala sekolah menyampaikan ketentuan tersebut kepada seluruh guru. Jika hanya sebagian ompreng yang diberi label, sementara lainnya tidak, makanan tersebut juga diminta untuk ditolak.

Menurut Sudaryono, ketepatan waktu makan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena makanan MBG merupakan makanan segar dan tidak menggunakan pengawet. Pergeseran waktu makan yang tidak dipatuhi disebut menjadi salah satu penyebab dalam sejumlah kasus kejadian luar biasa terkait MBG.

Selain label waktu konsumsi, sekolah diminta memeriksa kondisi makanan sebelum dibagikan kepada peserta didik. Pemeriksaan dapat mencakup bau makanan, kemungkinan makanan basi, keberadaan label pada ompreng, serta kesesuaian waktu konsumsi.

Sudaryono meluruskan anggapan bahwa guru diminta mencicipi makanan untuk mencegah keracunan. Menurut dia, guru justru diminta ikut makan MBG bersama peserta didik sekaligus memperhatikan kondisi makanan yang diterima.

“Makanan yang tersaji sampai dengan sekolah itu sudah dimakan oleh chef-nya pada saat makanannya masak, sudah dimakan oleh ahli gizi sebelum dikemasi, sudah dimakan oleh aslapnya pada saat dikemasi, dan sudah dimakan oleh PIC sekolah sebelum dibagikan ke kelas-kelas,” ujarnya.

BGN juga sedang mengembangkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap pelayanan dapur yang memasok MBG. Penilaian tersebut nantinya mencakup pemberian bintang dan catatan mengenai pelayanan yang diterima sekolah.

Sudaryono mengatakan aplikasi itu dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai masukan, seperti kualitas menu dan keterlambatan pengiriman. BGN menargetkan seluruh kepala sekolah dapat mengakses sistem tersebut setelah proses pengembangan yang diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga minggu.

Saat ini, BGN telah mengembangkan aplikasi Kurir MBG untuk memantau proses pengiriman dan serah terima makanan di sekolah.

Sudaryono meminta kepala sekolah tidak segan melaporkan pelayanan MBG yang perlu diperbaiki agar BGN memperoleh lebih banyak masukan dari sekolah.