Bos Perusahaan Minyak: Stok Minyak Dunia Menipis dan Makin Berisiko

Foto Ilustrasi: Bahan Bakar Minyak (BBM). (StockCake)
Foto Ilustrasi: Bahan Bakar Minyak (BBM). (StockCake)

Generasi.co, LONDON – Persediaan minyak dunia yang menjadi penyangga saat terjadi gangguan pasokan kini berada pada tingkat yang sangat tipis. Kondisi ini membuat pasar minyak berisiko mengalami tekanan lebih besar jika Selat Hormuz belum kembali dibuka sepenuhnya.

    CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan pemulihan stok minyak dunia juga membutuhkan waktu panjang setelah gangguan pasokan berakhir. Negara-negara konsumen minyak bahkan dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk mengisi kembali cadangan mereka.

    “Sampai Hormuz sepenuhnya dibuka kembali dan kepercayaan pulih, kenyataan di lapangan adalah tekanan di kedua sisi akan semakin meningkat,” kata Nasser dalam Energy Intelligence Forum di London, Senin.

    Nasser mengatakan tekanan terhadap minyak mentah memang serius, tetapi harga bahan bakar hasil pengolahan meningkat lebih tajam. Pelepasan cadangan darurat minyak dan diesel oleh sejumlah negara dapat memberi waktu bagi perekonomian, tetapi tidak menyelesaikan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

    Pemerintah negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebelumnya mengumumkan rencana melepas hingga 100 juta barel minyak dan stok diesel darurat untuk meredam kenaikan harga bahan bakar.

    Produsen minyak di kawasan Teluk juga berupaya meningkatkan produksi dan ekspor. Arus pengiriman minyak mentah telah mendekati tingkat sebelum perang, tetapi tambahan pasokan tersebut belum banyak meredakan tekanan di pasar.

    Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Kuwait menggunakan kapal tanker mereka untuk mengirim minyak melalui Selat Hormuz yang masih mengalami gangguan. Jalur pelayaran strategis itu setidaknya sebagian terhambat sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari dan memicu perang regional.

    Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, masih berada di sekitar US$100 per barel dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut terjadi meski semakin banyak kapal tanker melintasi Selat Hormuz.

    Saudi Arabia menjadi salah satu negara yang meningkatkan pasokan. Aramco dalam sebulan terakhir menambah pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor utamanya di Ras Tanura, Teluk Persia.

    Aramco juga telah memulihkan aliran minyak melalui pipa East-West hingga sekitar 80 persen dari kapasitasnya. Pemulihan itu membuat perusahaan memiliki lebih banyak minyak yang dapat dikirim melalui Laut Merah.

    Nasser mengatakan pasokan minyak Aramco tetap bertahan selama konflik dengan memanfaatkan fasilitas penyimpanan internasional dan mempercepat perbaikan infrastruktur yang rusak.

    Aramco kini mencari jalur ekspor minyak mentah alternatif dan tambahan fasilitas penyimpanan internasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur pengiriman minyak ke pasar global.