Generasi.co, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkoordinasi dengan Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI untuk menangani dugaan keterlibatan anggota TNI aktif dalam kasus korupsi dana siap pakai kebencanaan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) senilai Rp 148 miliar.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan koordinasi dengan Puspom TNI telah dilakukan secara intensif sejak awal penyidikan. Keterlibatan anggota TNI aktif menjadi salah satu hal yang ditelusuri dalam pengembangan perkara tersebut.
“Karena memang secara paralel KPK juga berkoordinasi secara intensif dengan Puspom TNI karena memang dalam konstruksi perkara ini ada dugaan keterlibatan oknum TNI aktif, sehingga nanti kita bisa bersama-sama dalam proses penyidikan berikutnya,” kata Budi di Gedung Merah Putih KPK, Selasa (20/10/2026).
Koordinasi tersebut juga berkaitan dengan kemungkinan pemeriksaan mantan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Budi mengatakan pemanggilan Suharyanto bergantung pada perkembangan penyidikan.
“Nanti kita lihat ya, perkembangannya seperti apa,” ujar Budi.
Dalam perkara ini, dua dari lima tersangka merupakan tenaga ahli Kepala BNPB, yakni Bima Setiawan dan Richard Erlangga. Bima diketahui merupakan adik Suharyanto.
Tersangka lainnya adalah Gabriel Purwaka Sigit, yang menjabat Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Budi mengatakan KPK mengapresiasi dukungan Puspom TNI dalam penanganan perkara tersebut. Perkembangan mengenai kemungkinan pemanggilan pihak-pihak terkait akan disampaikan sesuai proses penyidikan.
KPK juga telah melakukan penggeledahan di delapan lokasi di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bekasi pada Kamis (15/10/2026) hingga Senin (19/10/2026). Lokasi yang digeledah meliputi rumah, perkantoran, serta Kantor BNPB di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.
Dari rangkaian penggeledahan tersebut, penyidik menyita sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan perkara korupsi dana kebencanaan. Barang bukti itu meliputi dokumen, barang bukti elektronik, uang, perhiasan, serta tiga unit mobil.
Budi mengatakan penyidik masih menghitung dan memeriksa barang-barang yang disita karena penggeledahan dilakukan di sejumlah lokasi.
“Masih proses hitung. Masih proses hitung, karena ini memang ditemukan dalam serangkaian kegiatan penggeledahan. Penggeledahannya tidak sedikit, ada di delapan lokasi, tentu butuh proses,” ucapnya.










