Generasi.co, Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, secara tegas mengecam pihak-pihak yang menggulirkan wacana pemakzulan terhadap Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka.
Luhut menyebut tindakan tersebut sebagai sikap kampungan yang tidak mencerminkan semangat berdemokrasi secara sehat.
Menurut Luhut, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memperkeruh suasana politik dengan isu-isu yang tidak membangun.
Ia menilai, masyarakat dan elite politik seharusnya fokus memberikan dukungan terhadap pemerintahan baru yang akan segera dilantik, demi kemajuan bangsa.
“Kalau ada yang bicara soal pemakzulan Gibran, saya kira itu tindakan kampungan. Tidak ada manfaatnya sama sekali untuk rakyat.”
“Sekarang saatnya kita bersatu mendukung pemerintahan yang baik,” ujar Luhut dalam keterangan pers yang disampaikan di Jakarta, Senin (5/5/2025).
Luhut juga menekankan bahwa pemilihan umum telah selesai dan rakyat Indonesia telah menggunakan hak pilihnya untuk menentukan arah kepemimpinan nasional.
Oleh karena itu, setiap pihak harus menghormati hasil demokrasi dan tidak terus-menerus memelihara polarisasi.
“Pemilu sudah selesai, siapa pun yang menang adalah pilihan rakyat. Kita harus menghormati proses demokrasi ini. Jangan ada lagi upaya menjatuhkan pemimpin yang bahkan belum mulai bekerja,” tegasnya.
Pemerintahan Perlu Stabilitas Politik
Sebagai tokoh senior di pemerintahan dan perekonomian, Luhut menyoroti pentingnya stabilitas politik dalam menjalankan program pembangunan.
Menurutnya, polemik yang tidak berdasar hanya akan menghambat kemajuan dan mengalihkan perhatian dari persoalan-persoalan yang lebih penting seperti pengendalian inflasi, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan infrastruktur.
“Pemerintahan ke depan membutuhkan suasana yang kondusif untuk bisa menjalankan program-program strategis nasional. Jika terus disibukkan dengan isu-isu pemakzulan, itu hanya membuang waktu dan energi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa terdapat mekanisme hukum dan konstitusi yang jelas jika ada pelanggaran serius dari pejabat negara.
Namun, tudingan terhadap Gibran sejauh ini lebih banyak bersifat politis dan tidak berdasar hukum yang kuat.
“Kalau memang ada pelanggaran hukum, ya buktikan di pengadilan. Tapi kalau hanya berdasarkan asumsi dan kebencian politik, saya kira itu tidak elegan,” tambahnya.
Ajakan Bersatu Membangun Bangsa
Luhut mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk tokoh-tokoh oposisi, untuk bersikap dewasa dan menempatkan kepentingan nasional di atas ego pribadi maupun kelompok.
Ia menekankan bahwa Indonesia menghadapi banyak tantangan global, dan hanya dengan kerja sama yang solid, negara ini bisa terus berkembang.
“Sekarang waktunya kita bersatu, bukan saling menjatuhkan. Kita punya pekerjaan rumah besar di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, dan kesehatan. Jangan buang energi untuk hal-hal yang tidak produktif,” pungkasnya.
Seperti diketahui, desakan pemakzulan terhadap Gibran Rakabuming Raka mencuat setelah berbagai kontroversi yang menyertainya, terutama terkait pencalonannya sebagai wakil presiden di usia muda.
Namun, berbagai pihak menilai bahwa langkah-langkah tersebut lebih didorong oleh dinamika politik pascapemilu, bukan berdasarkan landasan hukum yang kuat.
(BAS/Red)










