Generasi.co, PROBOLINGGO – BRI Jazz Gunung Series Bromo 2026 menutup rangkaian pertunjukan dua hari dengan menghadirkan kolaborasi musisi dari dalam dan luar negeri di kawasan Amphitheater Jiwa Jawa Resort, Probolinggo, pada 24-25 Juli 2026.
Pertunjukan tersebut menjadi puncak rangkaian Jazz Gunung Series yang sebelumnya diawali melalui Bromo Jazz Camp pada 24 Juli 2026. Sejumlah musisi tampil dalam perhelatan yang menggabungkan musik jazz dengan suasana kawasan pegunungan Bromo.
Founder Jazz Gunung, Sigit Pramono, mengatakan pengembangan Jazz Gunung Series dilakukan untuk memperluas jangkauan pertunjukan musik agar tidak hanya terpusat di satu lokasi.
“Jadi Jazz Gunung Series itu adalah cara kita memperbanyak penonton tapi tidak di satu tempat karena kami ingin kita punya terus nanti melakukan Jazz Gunung Bromo, Jazz Gunung Ijen, Jazz Gunung Slamet, Jazz Gunung Burangrang,” ujar Sigit pada Jumat (24/7).
Menurut Sigit, rangkaian tersebut dirancang dengan menghadirkan panggung musik di berbagai kawasan yang memiliki karakter berbeda.
Pada hari pertama penyelenggaraan, Jumat (24/7), Batavia Collective tampil dalam ajang BRI Jazz Gunung Bromo untuk pertama kalinya. Elfa Zulham dari Batavia Collective menyebut suasana festival, lokasi, hingga kesempatan berkolaborasi menjadi pengalaman berkesan bagi grupnya.
“Untuk Batavia Collective, ini pertama kali banget kita perform di BRI Jazz Gunung Bromo dan vibes-nya seru banget. View-nya, audience-nya, dan sound-nya. Dan kita juga diajak kolaborasi. Untuk kami masing-masing sih impress banget dengan festival ini dan mudah-mudahan ke depannya, kita bisa balik lagi perform,” kata Elfa.
Elfa juga mengungkapkan kondisi udara dingin di Bromo menjadi tantangan tersendiri bagi para musisi. Selain itu, kolaborasi spontan yang dilakukan menjelang penampilan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.
“Yang jelas kita gak bakal lupain dinginnya. Karena untuk musisi, tangannya kalau sudah kaku agak susah mainnya. Yang kedua pasti kolaborasi dadakan, karena itu sejam sebelum kita main,” ujarnya.
Memasuki hari kedua, Sabtu (25/7), panggung BRI Jazz Gunung Series Bromo 2026 menghadirkan penampilan Kevin Yosua Big 6 ft. Nesia Ardi, vokalis Nonaria.
Kevin mengatakan kolaborasi bersama Nesia berjalan mudah karena keduanya telah sering tampil bersama dan memiliki pengalaman kerja sama sebelumnya.
“Oh, it’s very easy to work with her. Terlalu mudah, karena kita sudah sering main bareng. Sudah setahun kali ya. Jadi tidak terlalu banyak ngatur,” kata Kevin.
Penampilan lain pada hari kedua menghadirkan Indra Lesmana LLW ft. Eva Celia dan Teza Sumendra. Indra menyebut lagu “Freedom Jazz” menjadi salah satu bagian yang cukup menantang karena kondisi udara dingin di kawasan Bromo.
“Lagu yang paling menantang dibawakan hari ini itu Freedom Jazz. Karena dingin. Lagunya cepat, jadi jari seperti tidak semudah biasanya,” ujar Indra.
Selain para penampil tersebut, BRI Jazz Gunung Series Bromo 2026 juga menghadirkan Plutato ft. Cait Lin (Taiwan), Bilal Indrajaya, Batavia Collective, Ring of Fire Project ft. Simone Prattico dan Sri Hanuraga, Isyana Sarasvati, Littlefingers, Ali, Simone Prattico Java Collective, serta Watchdog.
Selain menjadi ajang pertunjukan musik, festival tersebut juga menghadirkan ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Pengunjung dapat menikmati produk kuliner khas kawasan Bromo, kerajinan tangan, serta karya seni lokal yang ditampilkan di area festival.
Penyelenggaraan BRI Jazz Gunung Series Bromo 2026 juga menghadirkan pengalaman bagi penonton melalui perpaduan musik, suasana pegunungan, dan lanskap Gunung Bromo.
Rangkaian acara ditutup melalui penampilan Indra Lesmana LLW ft. Eva Celia dan Teza Sumendra yang menjadi salah satu pertunjukan utama dalam festival tersebut.
BRI Jazz Gunung Series Bromo 2026 menjadi bagian dari rangkaian Jazz Gunung yang menghadirkan pertunjukan musik di sejumlah kawasan dengan konsep yang memadukan seni pertunjukan dan karakter destinasi.









