Ketua MPR Ahmad Muzani Dukung Penguatan Pendidikan Islam dan Revitalisasi Madrasah

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani dan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno (Sumber: kemenag.go.id)
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani dan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno (Sumber: kemenag.go.id)

Ahmad Muzani menyatakan dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam dan revitalisasi madrasah. Program STEM juga disorot untuk kemajuan pendidikan berbasis teknologi.

Generasi.co, Jakarta – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani, menyampaikan komitmennya dalam mendukung penguatan mutu pendidikan Islam di Indonesia. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan bersama Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Amien Suyitno yang berlangsung di Gedung MPR RI.

Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Muzani menyoroti pentingnya kolaborasi antara Kementerian Agama dengan lembaga legislatif guna menyukseskan Asta Cita Presiden RI, khususnya melalui pelaksanaan Program Hebat Tepat Cepat (PHTC) yang mencakup sektor pendidikan Islam.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah kondisi fisik madrasah di berbagai daerah yang dinilai membutuhkan revitalisasi. Menurut Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, revitalisasi tersebut bukan sekadar proyek fisik, namun juga bentuk kehadiran negara dalam memberikan keadilan pendidikan bagi umat.

“Revitalisasi madrasah adalah bentuk kehadiran negara untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia yang belajar di madrasah mendapatkan fasilitas yang layak, aman, dan bermartabat. Ini adalah bagian dari keadilan sosial dalam pendidikan,” tegas Suyitno dikutip dari kemenag.go.id, Kamis (5/6/2025).

Ia menambahkan ribuan madrasah, baik negeri maupun swasta, saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan membutuhkan perbaikan segera. Program ini akan memerlukan dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga serta kebijakan afirmatif dalam alokasi anggaran.

Selain aspek infrastruktur, pertemuan juga menyoroti pentingnya penguatan kurikulum berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Hal ini, menurut Suyitno, sangat penting agar pendidikan Islam mampu bersaing di era teknologi dan digitalisasi.

“Penguasaan sains dan teknologi harus menjadi karakter baru pendidikan Islam. Kita ingin lulusan madrasah dan PTKI menjadi pemimpin masa depan yang religius, rasional, dan solutif. Karena itu, penguatan STEM adalah keniscayaan,” ungkapnya.

Suyitno juga menekankan perlunya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan Islam. Ia menyatakan bahwa tidak boleh ada pemisahan antara keduanya dalam proses pendidikan.

“Islam tidak pernah memisahkan wahyu dan akal. Di madrasah, kita ingin menumbuhkan integrasi ilmu, di mana ilmu agama menjadi pijakan moral, dan ilmu sains menjadi alat kemajuan,” jelasnya.

Merespons dukungan dari Ketua MPR, Amien Suyitno menegaskan kesiapan Kementerian Agama untuk memperkuat koordinasi lintas sektor demi mewujudkan target pembangunan pendidikan Islam secara nasional.

“Kami menyambut baik arahan Ketua MPR RI. Ini adalah sinyal kuat bahwa pendidikan Islam mendapat tempat strategis dalam pembangunan nasional. Kemenag akan bekerja keras memastikan semua program selaras dengan visi besar Asta Cita Presiden,” tutupnya.

(BAS/Red)