BNI Catat Laba Rp10,1 Triliun di Semester I 2025, Didorong CASA dan Transformasi Digital

Gedung BNI (Sumber: Wikimedia)
Gedung BNI (Sumber: Wikimedia)

BNI raih laba Rp10,1 triliun di semester I 2025 lewat penguatan CASA, ekspansi kredit, dan digitalisasi. Rasio NPL membaik, ESG naik, dan pembiayaan hijau tumbuh.

Generasi.co, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja yang tetap solid sepanjang semester I 2025 melalui strategi penguatan likuiditas dan pengelolaan kualitas aset secara berkesinambungan.

Momentum pertumbuhan dana murah (CASA), yang diperkuat oleh konsistensi transformasi digital, menjadi fondasi dalam memperbesar kapasitas ekspansi kredit dan mendorong pertumbuhan bisnis perseroan.

Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar menyampaikan perseroan berhasil memperkuat posisi fundamental di tengah stabilitas ekonomi makro dan transisi pemerintahan yang berjalan dengan baik.

“Kami melihat penguatan CASA dan kualitas aset sebagai pilar utama untuk memperkuat kapasitas ekspansi kredit di semester kedua. Fokus kami tetap pada sektor produktif seperti pertanian, industri makanan dan minuman, telekomunikasi, infrastruktur, perumahan, hilirisasi energi, dan UMKM,” ujar Alexandra, yang akrab disapa Xandra, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/7/2025).

Hingga akhir semester I 2025, penyaluran kredit BNI tumbuh sebesar 7,1% secara tahunan (YoY) menjadi Rp778,7 triliun. Kredit korporasi tumbuh 10,4% YoY menjadi Rp435,8 triliun, terutama berasal dari korporasi swasta, BUMN, dan institusi pemerintah. Kredit kepada sektor swasta dan institusi meningkat 11,1% YoY menjadi Rp314,6 triliun, sementara kredit ke BUMN tumbuh 8,7% YoY menjadi Rp121,2 triliun.

Segmen konsumer mencatat pertumbuhan 10,7% YoY menjadi Rp147,0 triliun, didorong oleh pertumbuhan personal loan sebesar 11,7% YoY menjadi Rp60,1 triliun, serta KPR yang meningkat 9,9% YoY menjadi Rp68,4 triliun. Kredit untuk segmen kecil, yaitu UMKM non-KUR, tumbuh 9,2% YoY menjadi Rp44,4 triliun. Selain itu, kredit segmen komersial mulai menunjukkan momentum pertumbuhan dengan peningkatan sebesar 5,5%.

Kredit usaha dari perusahaan anak juga meningkat signifikan, tumbuh 27,1% YoY menjadi Rp17,2 triliun, mencerminkan penguatan sinergi grup. Ekspansi bisnis Hibank, anak usaha BNI yang fokus pada pembiayaan segmen komersial dan UMKM berbasis digital, tumbuh 31% YoY dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat di bawah 1% dan stabil dibanding tahun lalu.

Sebagai hasil dari akselerasi kredit pada segmen berisiko rendah, kualitas aset BNI terus membaik, ditandai dengan penurunan rasio NPL ke 1,9%, serta penurunan Loan at Risk (LAR) menjadi 11,0%. Hal ini memungkinkan Cost of Credit (CoC) dijaga tetap rendah di level 1%.

Sejalan dengan strategi penguatan fundamental tersebut, BNI berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp10,1 triliun pada semester I 2025. Capaian ini mencerminkan ketangguhan model bisnis BNI dalam menjaga profitabilitas yang sehat di tengah upaya memperkuat portofolio dan membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Pertumbuhan CASA yang Solid Dorong Penguatan Likuiditas

BNI mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 16,5% YoY menjadi Rp900 triliun, didominasi oleh peningkatan dana murah (CASA) yang tumbuh 18,7% YoY menjadi Rp647,6 triliun. Pertumbuhan rekening giro sebesar 25,1% YoY dan tabungan sebesar 10,5% YoY mendorong peningkatan rasio CASA menjadi 72,0%, naik dari 70,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa pertumbuhan CASA yang kuat mencerminkan keberhasilan BNI dalam memperkuat struktur pendanaan melalui digitalisasi dan transformasi cabang.

Sejak diluncurkan pada Juli 2024, aplikasi wondr by BNI mencatat peningkatan signifikan, dari 1 juta pengguna menjadi 8,6 juta pengguna per Juni 2025. Nilai transaksi naik 16 kali lipat menjadi Rp649 triliun, dengan jumlah transaksi mencapai 702 juta.

Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi secara digital. Kanal mobile banking BNI secara keseluruhan mencatat transaksi sebesar Rp1.188 triliun atau tumbuh 68% YoY. Sementara itu, platform korporasi BNIdirect mencatat pertumbuhan nilai transaksi sebesar 31,1% YoY menjadi Rp5.246 triliun, dengan volume transaksi naik 22,1% menjadi 717 juta transaksi. Transaksi dari klien korporasi menyumbang 78% dari total nilai transaksi, tumbuh 37% YoY.

Sepanjang semester I 2025, BNI juga berhasil menjaga rasio likuiditas dan permodalan pada level yang sehat. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,2%, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) masing-masing mencapai 144,2% dan 143,0%. Capital Adequacy Ratio (CAR) juga meningkat menjadi 21,1%, memperkuat kapasitas ekspansi.

Komitmen ESG dan Pembiayaan Berkelanjutan

Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyampaikan bahwa BNI terus memperkuat perannya sebagai institusi keuangan yang adaptif dan berdaya saing global.

“Hal ini terlihat dari peningkatan peringkat ESG (Environmental, Social, and Governance) MSCI dari BBB menjadi A, yang mencerminkan integrasi aspek keberlanjutan ke dalam strategi bisnis,” ujarnya.

Hingga Juni 2025, BNI telah menyalurkan pembiayaan hijau senilai Rp74 triliun, dengan pertumbuhan lebih dari 20% selama empat tahun terakhir. Sementara itu, penyaluran Sustainability Linked Loan (SLL) mencapai US$352 juta atau sekitar Rp5,74 triliun.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip keberlanjutan, BNI menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) untuk operasional pada tahun 2028, dan NZE untuk pembiayaan pada tahun 2060. BNI juga aktif mendorong debitur untuk mengadopsi praktik berkelanjutan berbasis ESG.

“Dengan struktur likuiditas yang solid, transformasi digital yang agresif, dan komitmen keberlanjutan yang terintegrasi, BNI siap mempercepat pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di semester berikutnya,” tutup David.

(BAS/Red)