Jakarta – Semangat Kartini di masa kini tak pernah padam. Justru, nyalanya terus hidup melalui langkah berani para perempuan yang memperjuangkan mimpi, kemandirian, dan karyanya di berbagai bidang. Semangat itulah yang terasa kuat dalam gelaran Bazaar Srikandi Pertiwi, sebuah ajang yang diselenggarakan BRI dengan menghadirkan karya-karya perempuan pelaku UMKM yang terus tumbuh dan berdaya.
Momentum ini dihadirkan oleh BRI melalui program Rumah BUMN yang menyelenggarakan Bazar UMKM bertajuk “Srikandi Pertiwi”. Bazar tersebut menjadi ruang apresiasi bagi produk unggulan dari para pengusaha perempuan, sekaligus wujud nyata komitmen BRI dalam mendorong pemberdayaan ekonomi lokal agar mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Di tengah kemeriahan bazar, kisah Cokelatin sukses mencuri perhatian. Bisnis cokelat artisan ini membuktikan bahwa dengan inovasi, kreativitas, serta dukungan pendampingan yang tepat, usaha skala kecil pun memiliki peluang untuk menembus pasar global.
Berdiri pada tahun 2016, Cokelatin didirikan oleh Irene Farriha. Menariknya, nama “Cokelatin” adalah perpaduan manis dari nama Irene dan Nugi, sang suami. Layaknya merawat anak sendiri, bisnis ini lahir dari rasa cinta dan harapan besar untuk memajukan potensi cokelat Nusantara.
Perjalanan Irene bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Saat masih berkarier di Event Organizer (EO), ia sering bersinggungan dengan para pelaku UMKM. Interaksi tersebut memantiknya untuk mencoba meracik minuman cokelat sendiri dan membawanya ke kantor. Tak disangka, racikan tersebut disukai banyak rekan kerjanya, hingga memantapkan keberanian Irene untuk menyeriusi dunia bisnis.
Demi menciptakan cokelat berkualitas premium dengan rasa yang pas, Irene sangat selektif dalam memilih bahan baku. Pilihan utamanya jatuh pada biji kakao Premium Grade 1 yang difermentasi secara ketat. Namun, yang membuat cokelat artisan ini istimewa adalah penggunaan varietas kakao langka bernama Javakrioyo asal Jawa Timur.
“Itu adalah salah satu varietas kakao langka yang jumlahnya cuma ada 5% di dunia,” jelas Irene dengan bangga. Konsistensi dalam menjaga kualitas baku dan Quality Control (QC) yang ketat membuat Cokelatin sukses menembus standar perhotelan bintang lima, membuktikan daya saing produk lokal yang sejajar dengan produk internasional lainnya.
Dalam menjalankan bisnis cokelat artisan ini, tantangan terbesar yang dihadapi Irene justru datang dari sisi edukasi pasar. Banyak konsumen perempuan menolak cokelat karena khawatir akan kenaikan berat badan. Irene secara konsisten mematahkan mitos tersebut melalui edukasi produk.
Perjalanan Cokelatin untuk “naik kelas” dimulai saat Irene bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta di bawah naungan BRI sejak 2018. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan pemasaran melalui jaringan agen dan reseller dari kalangan ibu rumah tangga.
Tahun 2020 menjadi ujian terberat sekaligus titik balik. “Dulu dari awal berdiri saya tuh termasuk UMKM yang kurang melek teknologi. Kita tidak go online pada saat itu, makanya kita kehajar di COVID 2020,” aku Irene jujur.
Di tengah krisis tersebut, ia memutuskan untuk bangkit kembali dengan membenahi sistem bisnisnya secara total dengan bimbingan Rumah BUMN. Mulai dari membangun website resmi, mengoptimalkan Instagram, hingga merambah platform e-commerce.
“Dukungannya nyata, kami tidak hanya diajarkan upgrade ilmu, tapi juga benar-benar dibimbing dan didengarkan apa yang kami butuhkan,” tambahnya.
Dukungan BRI lebih dari sekadar teori digital. Cokelatin dilibatkan secara aktif dalam berbagai program BRI, seperti pelatihan BRI UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur setiap tahunnya. Pendampingan ini juga mencakup pameran rutin di BRI Pusat yang membantu memperkuat branding di pasar lokal.
Puncaknya terjadi pada tahun 2022, saat BRI memfasilitasi Cokelatin untuk tampil di pameran internasional Specialty Coffee Expo di Boston, Amerika Serikat. “Momen itu jadi batu loncatan luar biasa. Di sana kami berhasil mendapatkan pembeli dan mulai mengirim barang ekspor,” jelas Irene bangga
Keberhasilan di kancah internasional ini tidak hanya mendongkrak omzet, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen lokal. Bagi Irene, pengalaman ekspor ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan bukti bahwa produk lokal memiliki tempat di panggung dunia berkat pembinaan yang tepat.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa kehadiran Rumah BUMN bertujuan menjadi wadah kolaboratif bagi pelaku usaha agar mampu meningkatkan kapasitas sekaligus daya saing bisnis.
Ia menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk membantu UMKM memperluas jaringan serta menangkap peluang di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Hingga saat ini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.
“Banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha” ujarnya.










