Ibas tekankan pentingnya co-firing biomassa dan pengesahan RUU EBT sebagai solusi energi bersih dan peluang ekonomi baru di Pacitan dan Indonesia secara luas.
Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY) menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi co-firing biomassa sebagai langkah konkret mengurangi emisi karbon, memperkuat ketahanan energi, serta menciptakan peluang ekonomi baru di daerah.
Ia juga menyerukan percepatan pengesahan RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk memperkuat transisi energi nasional. Hal ini disampaikan Ibas saat menghadiri audiensi bertema ‘Co-Firing Biomassa: Tantangan, Peluang, dan Peran PLTU dalam Mendorong Pencapaian Target EBT Nasional’ bersama PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkit Pacitan, Jumat (8/8/2025).
“Kabupaten sebesar Pacitan ini memiliki PLTU, sumber energi penting yang menyuplai listrik tidak hanya untuk Pacitan tapi juga wilayah Jawa dan Bali. Ini hadir berkat visi Presiden SBY, putra daerah Pacitan, yang melihat energi sebagai isu strategis,” ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Minggu (10/8).
Teknologi co-firing merupakan teknologi yang memadukan pembakaran batu bara dengan biomassa dari limbah pertanian dan sampah terpilah. Menurut Ibas, penerapan metode ini bisa menjadi solusi transisi menuju energi ramah lingkungan.
“Co-firing biomassa adalah langkah nyata menuju energi bersih. Selain menurunkan emisi CO₂, ini juga membuka industri baru dan menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Ia menekankan biomassa tak hanya solusi energi, tapi juga alat pemberdayaan ekonomi lokal, terutama bila rantai pasoknya dikelola dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi, Ibas juga mendorong percepatan pembahasan dan pengesahan RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Ia menyebut RUU ini sebagai fondasi regulasi yang penting untuk menarik investasi dan menciptakan kepastian hukum di sektor energi hijau.
“Target bauran energi terbarukan nasional adalah 23% pada 2025 dan 30% di tahun 2050. Tapi proses pembahasan RUU EBT masih menghadapi tarik ulur karena perbedaan kepentingan antara energi fosil dan terbarukan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, ia menilai perlu pendekatan komunikasi, pemberian insentif fiskal, dan peningkatan kapasitas SDM di sektor energi. Ibas berharap sinergi antara PLN, pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat bisa menjadikan Pacitan sebagai model transisi energi yang berhasil.
“Tujuan kita sama: keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan regulasi dan komitmen bersama, saya yakin Pacitan bisa jadi role model energi bersih nasional,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut, Senior Manager PT PLN NP Pacitan Munif memaparkan sejak 2021 pihaknya telah menjalankan program co-firing dan menggunakan 184 ribu ton biomassa hingga 2024. Namun, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan utama yang memerlukan solusi jangka panjang.
Menanggapi hal itu, Ibas menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak.
“Jika kita bisa kelola sampah dan limbah pertanian secara terstruktur, Pacitan akan punya pasokan biomassa yang stabil. Ini bukan hanya soal energi, tapi juga ekonomi sirkular,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Pacitan Indrata Nuraji menyatakan dukungan penuh terhadap pemanfaatan biomassa. Ia berjanji akan memperkuat pengelolaan sampah daerah agar bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
“Kami siap mendukung agar pengelolaan limbah jadi lebih sistematis dan bermanfaat untuk program energi terbarukan,” kata Indrata.
Ketua DPRD Pacitan Arif Setia Budi juga turut hadir dan menyatakan kesiapan lembaganya untuk mendorong regulasi dan kebijakan pendukung di tingkat lokal.
Mengakhiri pemaparannya, Ibas menegaskan kebijakan energi saat ini harus memikirkan keberlanjutan untuk generasi mendatang.
“Biomassa adalah solusi menuju masa depan yang lebih cerah. Mari kita wujudkan mimpi untuk bumi yang lebih hijau dan sejahtera,” tutupnya.










