JAKARTA, Generasi.co — Bara konflik yang kian membakar Timur Tengah kini memunculkan ancaman baru bagi perekonomian domestik: perebutan rantai pasok energi global. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mendesak Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) untuk bersiaga menghadapi persaingan sengit impor minyak dan gas (migas) melawan negara-negara raksasa industri Asia.
Peringatan ini menyusul eskalasi geopolitik terbaru, di mana ancaman penutupan lalu lintas Selat Hormuz dan masifnya serangan peluru kendali Iran ke infrastruktur migas negara-negara Teluk (Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait) dapat melumpuhkan pasokan energi dunia.
“Indonesia bisa ‘berebut’ pasokan minyak dan gas dengan negara-negara importir raksasa lainnya. Kita perlu mencermati pergerakan Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki volume impor jauh lebih besar,” ujar Eddy Soeparno dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Ancaman “Pembajakan” Kuota Impor oleh Raksasa Asia
Beruntungnya, tingkat ketergantungan Indonesia terhadap migas Timur Tengah terbilang moderat, yakni sekitar 20%. Selebihnya, Indonesia mengamankan pasokan dari Nigeria, Angola, Australia, hingga Brasil.
Namun, skenario buruknya akan terjadi ketika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Negara-negara industri raksasa di Asia—yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah—akan panik dan serta-merta mengalihkan keran impor mereka ke negara-negara pemasok non-Timur Tengah. Di sinilah posisi Indonesia terancam tersingkir oleh kekuatan modal asing yang berebut pasokan di pasar yang sama.
Peta Ketergantungan Migas Negara Asia terhadap Timur Tengah
| Negara | Volume Impor (Barel/Hari) | Porsi Impor dari Timur Tengah |
| Cina | ~11 Juta Barel | 55% – 60% |
| India | ~6 Juta Barel | 55% – 60% |
| Jepang & Korsel | 2 – 2,5 Juta Barel | 80% – 90% |
| Indonesia | Kebutuhan Domestik | 20% |
Sumber: Analisis Data Komisi XII DPR RI (2026)
3 Langkah Darurat untuk Pertamina dan ESDM
Menghadapi era disrupsi global pasca-Covid-19 ini, Anggota Komisi XII DPR RI tersebut menegaskan bahwa setiap negara akan mendahulukan kepentingan dalam negerinya. Oleh karena itu, Eddy mendesak tiga langkah antisipasi strategis yang harus segera dieksekusi:
- Kunci Komitmen Pemasok: Memastikan kontrak dan komitmen pengiriman dari negara-negara pemasok migas untuk Indonesia tidak tergoyahkan atau dibajak oleh penawaran harga tinggi dari negara lain.
- Mitigasi Lonjakan Harga: Menyiapkan bantalan fiskal dan strategi harga guna mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah akibat hancurnya fasilitas ladang migas di Timur Tengah.
- Akselerasi Diversifikasi: Mempercepat diversifikasi impor dari kawasan aman, seperti Amerika Serikat. Indonesia dapat memanfaatkan celah perjanjian perdagangan yang ada untuk mengamankan produk minyak mentah, LNG, hingga LPG.
Ketahanan Energi = Ketahanan Nasional
Eddy, yang juga Doktor Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, menekankan perlunya perubahan paradigma pemerintah dalam memandang komoditas energi. Kebutuhan migas tidak boleh lagi sekadar bertumpu pada indikator ‘ketersediaan’ (availability), melainkan harus naik level menjadi ‘keandalan’ (reliability) pasokan.
“Pada akhirnya, kondisi peperangan dan potensi krisis energi global saat ini semakin mendesak kita agar meningkatkan status ketahanan energi sejajar dengan ketahanan nasional,” pungkas Eddy.










