Timur Tengah, Generasi.co — Bara konflik di Timur Tengah kembali menyala hebat. Pasukan militer Iran resmi melancarkan gelombang serangan drone (pesawat nirawak) ke sejumlah kapal milik Amerika Serikat pada Minggu (19/4/2026).
Berdasarkan laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, serangan ini merupakan aksi balas dendam langsung dari Teheran atas penyitaan paksa kapal kargo berbendera Iran, TOUSKA, oleh militer Washington di hari yang sama. Belum dirinci apakah drone tersebut menyasar armada militer atau kapal komersial AS.
Kronologi Penyitaan TOUSKA oleh Pasukan AS
Insiden penyitaan kapal TOUSKA pertama kali diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang kemudian dikonfirmasi secara resmi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM).
Menurut data pelacakan, kapal TOUSKA berangkat dari Port Klang, Malaysia, pada 12 April dengan tujuan Bandar Abbas, Iran. Namun, di tengah perjalanan melintasi Teluk Oman, kapal tersebut dicegat oleh kapal perang USS Spruance. CENTCOM mengklaim penyitaan dilakukan karena kapal tersebut berusaha menerobos blokade angkatan laut Washington. Melalui media sosial X, CENTCOM bahkan merilis rekaman video yang memperlihatkan kapal perang AS memberikan peringatan sebelum akhirnya melepaskan tembakan ke arah TOUSKA. Saat ini, kapal kargo tersebut telah ditahan oleh pihak Washington.
Kemarahan Teheran: AS Lakukan Pembajakan Bersenjata!
Dari sudut pandang Iran, tindakan AS adalah bentuk pembajakan terang-terangan yang merobek kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sejak 8 April lalu.
Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya dan Juru Bicara Militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, membeberkan taktik agresif pasukan AS saat mengambil alih kapal:
- Menargetkan dan menonaktifkan sistem navigasi kapal.
- Melepaskan tembakan peringatan dan intimidasi.
- Menaiki dan mengambil alih kapal secara paksa.
“Amerika Serikat yang agresif, dengan melanggar gencatan senjata dan terlibat dalam pembajakan, menyerang salah satu kapal Iran setelah menonaktifkan sistem navigasinya. Kami memperingatkan bahwa pasukan militer Iran akan segera menanggapi dan membalas tindakan pembajakan bersenjata ini,” ancam Zolfaghari dengan nada keras.
Nasib Selat Hormuz Kian Tak Menentu
Eskalasi serangan drone balasan ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak di Selat Hormuz, urat nadi pelayaran minyak dunia.
Sejak akhir Februari, status keamanan selat ini terus bergejolak:
- Ditutup Iran: Merespons serangan AS-Israel pada akhir Februari.
- Blokade AS: Merespons mandeknya negosiasi damai dengan Teheran.
- Sempat Dibuka: Pasca-gencatan senjata 8 April.
- Ditutup Kembali: Akibat penolakan AS untuk mencabut blokade lautnya.
Dengan hancurnya gencatan senjata lewat insiden kapal TOUSKA dan serangan drone balasan dari Iran, nasib rute energi global di Selat Hormuz kini dipastikan berada di titik nadir krisis.










