Paus Leo XIV Idap Kanker Paru-paru, Operasi Berjalan Sukses

Paus Leo XIV /IG

Generasi.co, ROMA – Paus Leo XIV menjalani operasi pengangkatan lobus bawah paru-paru kanan setelah didiagnosis mengidap kanker paru-paru. Operasi selama sekitar 90 menit di Rumah Sakit Gemelli, Roma, tersebut berjalan sukses tanpa komplikasi. Kini, pemimpin umat Katolik berusia 71 tahun itu menjalani masa pemulihan sembari menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar.

Dilansir melalui Associated Press (AP), pernyataan Vatikan tidak menyebutkan rencana pengobatan lanjutan bagi Paus Leo. Dokter masih menunggu hasil tes sebelum menentukan apakah ia memerlukan kemoterapi atau terapi lainnya.

Kantor pers Vatikan menjelaskan, pengangkatan lobus paru-paru secara menyeluruh atau radical removal menunjukkan dokter berupaya mengangkat seluruh jaringan yang dicurigai mengandung kanker, termasuk untuk menghilangkan sisa jaringan kanker yang mungkin tertinggal.

Kelenjar getah bening Paus Leo juga akan diperiksa untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar. Hingga laporan tersebut disampaikan, hasil pemeriksaan itu belum diumumkan.

Dokter Stephen Liu, pakar kanker paru-paru di Lombardi Comprehensive Cancer Center, Georgetown, mengatakan adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru-paru yang paling umum dan memiliki prognosis relatif lebih baik. Namun, penentuan stadium kanker tetap diperlukan untuk mengetahui penanganan yang sesuai.

“Meski kita sudah mengetahui diagnosisnya, kini kita perlu mengetahui stadiumnya,” kata Liu.

Menurut dia, dokter perlu mengetahui ukuran kanker, jumlah titik yang terdampak di paru-paru, serta apakah kelenjar getah bening mengandung sel kanker. Jika kanker telah menyebar, pemeriksaan tambahan diperlukan untuk menentukan terapi yang tepat.

Pilihan pengobatan dapat mencakup kemoterapi, kombinasi kemoterapi dan imunoterapi, atau terapi target berupa obat oral yang dirancang untuk jenis kanker tertentu.

Sebelumnya, Paus Leo mengumumkan penemuan nodul atau benjolan kecil di paru-parunya saat doa Angelus pada Minggu siang. Nodul tersebut ditemukan dalam pemeriksaan kesehatan dan kemudian diputuskan untuk diangkat melalui operasi.

Nodul paru-paru merupakan area abnormal berukuran kurang dari 3 sentimeter yang dapat terlihat melalui pemindaian dada atau perut. Benjolan tersebut bisa bersifat jinak maupun ganas. Pengangkatan melalui operasi dapat dilakukan untuk memastikan apakah nodul merupakan kanker sekaligus menangani kanker yang masih terlokalisasi.

Vatikan menyatakan Paus Leo sempat menjalani observasi setelah operasi sebelum kembali ke kamarnya di lantai 10 Rumah Sakit Gemelli. Seluruh agenda audiens Paus dibatalkan hingga 20 Oktober.

Pemulihan tersebut juga menjadi pertimbangan bagi rencana perjalanan Paus Leo ke Amerika Selatan pada November mendatang. Ia dijadwalkan mengunjungi Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6–17 November.

Namun, belum ada kepastian apakah perjalanan itu dapat terlaksana. Dokter onkologi umumnya menyarankan pasien menghindari penerbangan selama tiga minggu setelah operasi, bergantung pada kondisi pemulihan masing-masing pasien.

Perjalanan tersebut direncanakan menjadi lawatan terpanjang Paus Leo selama masa kepausannya, dengan jarak tempuh lebih dari 31.000 kilometer melalui 12 penerbangan dan dua perjalanan menggunakan helikopter.

Sebelumnya, Paus Leo juga pernah dirawat di rumah sakit akibat demam tifoid pada 1985, ketika menjalankan misi sebagai imam di Chulucanas, Peru. Pengalaman sakit tersebut menjadi salah satu momen penting dalam keputusannya untuk tetap menjalani pelayanan di Peru.