Haidar Alwi Sebut Politik Sejuk Sufmi Dasco Jadi Oase di Tengah Ketegangan

Foto: Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. (Tangkap Layar Instagram @sufmi_dasco)
Foto: Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. (Tangkap Layar Instagram @sufmi_dasco)

Haidar Alwi menilai gaya tenang dan sistematis Sufmi Dasco Ahmad menjadi kekuatan politik penting dalam menjaga stabilitas nasional dan mendampingi kepemimpinan Presiden Prabowo.

Generasi.co, Jakarta – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) R. Haidar Alwi menyampaikan pandangannya terkait peran penting Sufmi Dasco Ahmad dalam dinamika politik nasional. Sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Ketua Harian Partai Gerindra, Dasco memegang posisi strategis sekaligus sarat tantangan di tengah iklim politik yang dinamis.

Menurut Haidar, tanggung jawab Dasco tidak hanya terbatas pada menjaga soliditas partai pemenang pemilu, namun juga menjembatani komunikasi antara eksekutif dan legislatif. Ia menyebut gaya kepemimpinan Dasco sebagai antitesis dari pola komunikasi politik yang gaduh dan reaktif.

“Namun di balik posisi tersebut, yang paling penting justru adalah karakter dan pendekatan yang Dasco bawa ke dalam politik nasional: sejuk, sabar, dan sistematis,” kata Haidar Alwi, dikutip Selasa (15/7/2025).

Dalam berbagai isu nasional, lanjut Haidar, Dasco cenderung menahan diri dari pernyataan provokatif. Contohnya saat muncul polemik batas wilayah empat pulau antara Aceh dan Sumatera Utara, ia mendorong penyelesaian konstitusional dan menghindari narasi sektarian.

“Gaya kepemimpinannya menjadi kontras sekaligus harapan. Ia menunjukkan bahwa politik tidak harus bising untuk efektif, dan tidak harus keras untuk dianggap kuat. Justru dalam ketenangan itu terletak kekuatan sejati: meredam, menjembatani, menyatukan,” tuturnya.

Haidar juga menyoroti konsistensi Dasco dalam hadir di berbagai momentum penting bangsa, baik secara simbolis maupun substantif. Dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Dasco menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus dijalankan, bukan hanya dihafalkan.

“Pernyataan itu, meski disampaikan singkat melalui kanal resminya, sangat bermakna. Ia menolak menjadikan hari besar hanya sebagai formalitas, dan justru mendorong internalisasi nilai luhur bangsa,” sebut Haidar.

Tak hanya dalam hal seremonial, Dasco juga aktif mendengarkan aspirasi publik. Ia hadir saat Hari Buruh untuk berdialog dengan serikat pekerja, dan pada Hari Pahlawan ia menyerukan semangat patriotisme yang bebas dari retorika kosong.

Dalam kasus kemanusiaan, seperti yang menimpa WNI di Myanmar, Dasco turut mendorong kebijakan luar negeri aktif demi penyelamatan warga negara, termasuk mempertimbangkan opsi operasi non-militer.

“Ini menandakan bahwa Dasco memahami betul bahwa kebangsaan bukan hanya wacana dalam negeri, tapi tanggung jawab global terhadap warga dan kehormatan negara,” ungkapnya.

Sebagai Ketua Harian Gerindra dan tokoh yang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, Dasco memiliki posisi penting dalam memastikan sinergi antara partai, DPR, dan pemerintahan. Menurut Haidar, peran itu dijalankan dengan kehati-hatian dan keseimbangan.

“Ia memastikan partai tetap solid, DPR tetap konstruktif, dan kebijakan nasional berjalan dalam rel konstitusi,” jelasnya.

Sikap Dasco terhadap berbagai isu strategis seperti pengawasan ibadah haji, seleksi duta besar, hingga perdebatan soal sejarah nasional, dilakukan dengan pendekatan tenang dan penuh kalkulasi.

“Ini mencerminkan gaya politik yang matang dan tidak reaktif. Ia tidak terpancing popularitas jangka pendek, tetapi memilih peran strategis jangka panjang: menjaga agar sistem tetap stabil dan rakyat tidak menjadi korban turbulensi politik,” ujar dia.

Lebih lanjut, Haidar menggambarkan Dasco sebagai contoh pemimpin negarawan, bukan hanya hadir dalam kemenangan, tetapi juga bertanggung jawab saat menghadapi krisis.

“Inilah definisi pemimpin negarawan: bukan hanya hadir saat menang, tetapi bertanggung jawab penuh ketika menghadapi krisis. Bukan hanya mendampingi Presiden Prabowo secara simbolik, tetapi benar-benar menopang jalannya pemerintahan dari sisi parlemen dan struktur internal partai,” sambungnya.

Dalam konteks global, Haidar melihat sosok Dasco sebagai pengecualian di tengah tren kepemimpinan populis dan keras kepala. Ia menilai Indonesia membutuhkan figur seperti Dasco, yang mampu berpikir jernih dan membangun melalui akal sehat.

“Karena itulah, peran Sufmi Dasco Ahmad harus terus diperkuat dan dicontoh. Bukan karena dia sempurna, tetapi karena ia konsisten menjaga apa yang disebut ‘hikmah dalam kekuasaan’. Sesuatu yang langka, sekaligus sangat dibutuhkan bangsa ini,” pungkasnya.

(BAS/Red)