Menlu RI Sugiono tegaskan Indonesia tetap non-blok meski resmi gabung BRICS. Prabowo usung semangat KAA Bandung di KTT BRICS 2025.
Generasi.co, Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan prinsip non-blok akan terus menjadi fondasi utama kebijakan luar negeri Indonesia, meskipun kini telah resmi bergabung dengan kelompok BRICS.
“Sejarah kita menunjukkan bahwa ketika kita berpihak pada salah satu blok kekuatan, masyarakat kita justru terpecah,” ujar Sugiono dikutip dari ANTARA, Kamis (24/7/2025).
Pernyataan ini disampaikan Sugiono sebagai respons terhadap munculnya kekhawatiran bahwa keanggotaan Indonesia dalam BRICS+ akan menggeser posisi politik luar negeri Indonesia yang netral.
BRICS awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kini telah meluas menjadi BRICS+ dengan sejumlah anggota baru, termasuk Indonesia.
Menurut Sugiono, langkah bergabung dengan BRICS selaras dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Ia juga menyoroti Indonesia sebelumnya telah menjadi bagian dari forum ekonomi lainnya seperti APEC dan kini tengah menjalani proses untuk bergabung dengan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Keputusan untuk masuk dalam BRICS, lanjut Sugiono, diambil setelah melalui proses kajian yang cermat. Ia menekankan BRICS memiliki semangat yang sejalan dengan kepentingan negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Global South.
Sugiono juga menambahkan Presiden Prabowo Subianto mendorong Indonesia untuk menjadi mitra yang baik bagi negara lain.
“Menjadi tetangga yang baik artinya kita ingin membangun hubungan yang dilandasi saling menghormati dan berlandaskan pada kepentingan nasional kita, dengan negara-negara lain,” jelas Sugiono.
Dalam rangka memperkuat diplomasi tersebut, Kementerian Luar Negeri terus menjaga komunikasi aktif dengan berbagai negara mitra.
Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025, bertepatan dengan kepemimpinan Brasil dalam forum tersebut. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyuarakan pentingnya menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung untuk memperkuat posisi negara berkembang.
Presiden Lula dalam pidatonya pada sesi Perdamaian dan Keamanan serta Tata Kelola Global menekankan peran penting Indonesia dalam sejarah pergerakan negara-negara Selatan sejak KAA 1955 di Bandung. Ia menyebut momen tersebut sebagai tonggak penolakan terhadap dominasi blok kekuatan besar.
“Sebagian besar negara yang kini tergabung dalam BRICS merupakan pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sepuluh tahun kemudian, Konferensi Bandung menolak pembagian dunia ke dalam zona-zona pengaruh, dan memperjuangkan tatanan internasional yang multipolar. BRICS adalah pewaris semangat Gerakan Non-Blok,” demikian mengutip pidato Presiden Lula.
(BAS/Red)










